Kapolda Sulteng: Perumahan yang Dibakar di Sigi Tinggi Toleransi Beragamanya

Baca Juga

MATA INDONESIA, PALU – Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) menegaskan tidak ada gereja yang dibakar di wilayah hukumnya yaitu Kabupaten Sigi. Itu kawasan yang dikenal dengan toleransi beragamanya yang tinggi.

Didampingi Komandan Korem 132/Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Abdul Rakhman Baso menegaskan obyek yang dibakar adalah rumah penduduk.

Pelakunya adalah orang tidak dikenal. Tempat kejadian perkara (TKP) itu adalah kawasan transmigrasi yang terdiri dari 50 rumah dan hanya sembilan unit yang penghuninya menetap.

Menurut Baso kawasan itu juga bukan merupakan konsentrasi masyarakat kristen, melainkan bercampur dengan pemeluk agama lainnya. Menurut Baso toleransi diantara kesembilan penghuni rumah itu sekarang sangat bagus.

Kronologi kejadiannya menurut Baso, pada Jumat 27 November 2020 pada pukul 09.00 WIB salah satu rumah itu didatangi sekitar delapan OTK.

Mereka masuk melalui pintu belakang dan berhasil mengambil beras sekira 40 kilogram. OTK melakukan penganiayaan tanpa ada pernyataan apa pun, menggunakan senjata tajam tanpa perikemanusiaan mengakibatkan empat orang korban.

Setelah itu OTK membakar rumah sebanyak kurang lebih enam rumah. Menurut Kapolda Sulawesi Tengah empat rumah yang dibakar juga tidak habis seluruhnya, hanya bagian belakang yang umumnya rumah tambahan dengan atap alang-alang.

Baso memastikan pelaku kekerasan menyebabkan korban jiwa di Kabupaten Sigi diduga dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso berdasarkan keterangan saksi.

Ia mengatakan saat ini situasi kondusif dan aparat keamanan sudah melakukan trauma heling kepada warga setempat untuk takut terkait kejadian itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini