Kajian Intelijen: Isu Sumber Daya Energi Merupakan Isu Global

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejak era pemerintahan Soekarno isu Bahan Bakar Minyak (BBM), selalu menjadi isu sentral yang memunculkan reaksi pro dan kontra di masyarakat. Penetapan kebijakan dan pengambilan keputusan di sektor energi ini selalu menjadi kebijakan yang tidak populer. Tetapi Pemerintah harus mengambil kebijakan tersebut yang tentunya mendapat dukungan dari masyarakat.

Hal itu diungkapkan Dr Sundawan Salya dari Lembaga Pengkajian Intelijen Strategis kepada Mata Indonesia News, Jumat 2 September 2022.

Menurut Sundawan, isu sumber daya energi bukan merupakan dominasi Isu domestik. Tetapi sesungguhnya merupakan isu global. Hal ini dikarenakan posisi penting sektor sumber daya energi, khususnya BBM dan gas yang memainkan peran sangat penting (play important role) sebagai energi utama yang dibutuhkan dunia.

”Munculnya konflik kepentingan antara negara di tingkat global, dan memanfaatkan isu BBM dan gas sebagai bagian dari Konflik tersebut. Dapat memunculkan dan membawa dampak sangat besar terhadap keseimbangan kebutuhan suplai BBM dan gas pada tataran global, regional, terutama domestik,” katanya.

Sundawan yang juga dosen di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) ini melihat persoalan kenaikan harga BBM ini dari perspektif kajian intelijen strategis. ”Ini tidak bisa dilepaskan dari gambaran besar yang terjadi saat ini. Khususnya sebagai salah satu dampak dari Konflik Rusia dan Ukraina. Bahkan juga bersinggungan dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina,” katanya. 

Pernyataan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Pol Prof Budi Gunawan yang mengatakan, dari analisa intelijen ekonomi perkembangan global tersebut menjadi beban ekonomi bagi negara-negara lain. Termasuk bagi Indonesia, menurut Sundawan merupakan analisa yang tepat. ”Perlu penatakelolaan yang tepat. Apabila tidak ditata dalam kebijakan yang tepat dapat dipastikan bisa memunculkan efek berantai (multiplier effect) terhadap sektor lainnya. Yaitu sektor sosial, ekonomi, bahkan sektor politik dan keamanan,” ujarnya.

Tak hanya itu, akan terjadi potensi keterbatasan pasokan BBM, potensi naiknya biaya trasnportasi, naiknya harga-harga kebutuhan hidup dan tentunya munculnya pemanfaatan Isu BBM menjadi isu politik. ”Ini dapat memunculkan kerawanan keamanan nasional,” katanya. 

Politik subsidi BBM dengan mengalihkan anggaran subsidi BBM menjadi bantalan sosial sebesar Rp 24,1 Triliyun merupakan sebuah opsi taktis jangka menengah yang dapat menjadi legal standing pemerintah dalam keputusannya mengurangi subsidi bagi masyarakat mampu. Dan mengalihkannya bagi masyarakat yang rentan. ”Pemerintah perlu bersikap konsisten di dalam melindungi kelompok masyarakat yang rentan, agar tujuan dari pengalihan subsidi tersebut bisa tepat sasaran,” ujarnya. 

Di dalam merespons penolakan opsi pengalihan anggaran subsisi BBM oleh sebagian masyarakat, pemerintah tidak perlu reaktif karena ini merupakan bagian dari dinamika sosial politik. ”Reaksi tersebut sebagai bagian dari koreksi yang bisa menambal bolong-bolong di dalam pelaksanaan bantalan sosial,” katanya. 

Sundawan mengatakan opsi taktis, harus diikuti oleh opsi strategis. ”Dengan menyusun dan menetapkan strategi untuk memenuhi kebutuhan nyata sumber daya energi yang berbasis kepada sustainable energy,” ujarnya. 

Termasuk kebutuhan nyata mengamankan suplai energy (energy supplai security), dengan memilih sumber-sumber energi alternatif selain BBM.

 

Reporter: Dita Nur Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini