Kadek Agung Bersyukur Cetak Gol untuk Timnas Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kadek Agung Widnyana putra bersyukur bisa mencetak gol sekaligus membantu timnas Indonesia meraih kemenangan di laga uji coba lawan Tira Persikabo.

Timnas Indonesia meraih kemenangan 2-0 pada laga uji coba di Stadion Madya, Senayan, Jumat 5 Maret 2021. Selain Kadek Agung, satu gol lain dicetak Muhammad Rafli.

Gelandang asal Bali United itu mencetak gol di menit ke-45 sekaligus gol pertamanya di level internasional. Selain bahagia bisa mencetak gol, Kadek senang bisa bermain sepak bola lagi setelah satu tahun terhenti karena pandemi Covid-19.

“Akhirnya bisa bermain lagi pada pertandingan resmi di lapangan, walaupun ini cuma uji coba saya tetap bersyukur. Bagi saya secara pribadi adalah bisa memberikan yang terbaik saat latihan maupun pertandingan bersama Timnas Indonesia,” kata Kadek Agung, di laman resmi PSSI, Sabtu 6 Maret 2021.

“Kalau selebrasi tentunya sedikit tidak sesuai dengan yang kemarin-kemarin, bagaimanapun harus mengikuti protokol kesehatan. Semoga ini jadi kebangkitan sepak bola di masa pandemi Covid-19,” tambah pemain asal Luwus, Tabanan, Bali, yang menjelaskan tentang perbedaan selebrasi yang dia lakukan.

Seusai pertandingan melawan Tira Persikabo, skuat Garuda akan melakukan pertandingan uji coba kedua melawan Bali United yang akan diselenggarakan pada Minggu 7 Maret 2021 malam di Stadion Madya.

Timnas Indonesia sudah melakukan pemusatan latihan (TC) di Jakarta sejak 8 Februari lalu. TC ini merupakan persiapan tim untuk berlaga di SEA Games 2021, yang berlangsung di Vietnam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini