Jurnalis Bloomberg Ditahan Otoritas Cina

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Otoritas Cina menahan seorang warga negaranya yang bekerja untuk biro Bloomberg News di Beijing. Ia dicurigai membahayakan keamanan nasional, demikian diungkapkan Kantor berita dan Kementerian Luar Negeri Cina.

Menurut laporan Bloomberg, Haze Fan terlihat dikawal dari gedung apartemennya oleh petugas keamanan yang berpakaian preman pada Senin (7/12), tak lama setelah dia berhubungan dengan salah satu editornya.

“Warga negara Cina, Haze Fan telah ditahan oleh Biro Keamanan Nasional Beijing sesuai dengan hukum Cina yang relevan karena dicurigai terlibat dalam kegiatan kriminal yang membahayakan keamanan nasional,” kata Kementerian Luar Negeri Cina, melansir Reuters, Sabtu, 12 Desember 2020.

“Kasus ini sedang diselidiki. Hak sah Haze Fan telah dipastikan sepenuhnya dan keluarganya telah diberi tahu mengenai hal ini,” sambung Kemenlu Cina.

Sementara Biro Keamanan Nasional Cina tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan seputar penangkapan jurnalis Bloomberg tersebut. Pihak Bloomberg yang berbasis di New York menyayangkan penangkapan salah satu jurnalisnya.

“Kami sangat prihatin padanya dan kami juga telah secara aktif berkomunikasi dengan pihak berwenang Cina untuk lebih memahami situasinya. Kami terus melakukan segala yang kami bisa untuk mendukungnya, sementara kami mencari lebih banyak informasi,” tutur juru bicara Bloomberg dalam sebuah email kepada Reuters.

Pemimpin redaksi Bloomberg, John Mickletwait dan editor senior lainnya mengatakan kepada staf yang berbasis di Cina bahwa pihak berwenang Beijing mengatakan Haze Fan tidak ditahan terkait pekerjaannya, demikian laporan Wall Street Jornal.

Fan telah bekerja untuk Bloomberg sejak 2017. Sebelumnya ia sempat bekerja untuk Reuters, CNBC, Al Jazeera, dan CBS News. Hal ini terungkap berdasarkan profil di akun LinkedIn-nya.

Pemerintah Cina sendiri telah mengusir banyak jurnalis asing yang bekerja untuk media Amerika Serikat. Hal ini disinyalir karena hubungan antara Cina dan Washington yang semakin memburuk.

Pada Augustus, pihak berwenang Beijing menahan seorang warga Australia kelahiran Cina, Cheng Lei. Pria yang bekerja sebagai penyiar di televisi milik pemerintah Cina, CGTN itu dicurigai melakukan aktivitas yang membahayakan keamanan nasional.

Sementara pada September, pemerintah Australia membantu dua koresponden yang merupakan warga negaranya untuk meninggalkan Cina setelah keduanya diinterogasi Kementerian Keamanan Cina.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini