Jelang G20, Sistem Pembayaran Membuat Ekonomi Bertahan Menuju Pemulihan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejalan dengan Presidensi G20, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan jauh sebelum pandemi Covid-19, pada Mei 2019, BI telah meluncurkan blueprint sistem pembayaran Indonesia (BSPI) 2025.

Dampaknya ekonomi Indonesia bisa bertahan dan menuju pemulihan saat ini. BI makin optimis BSPI 2025, akan tercapai sesuai target setelah Presidensi G20 Indonesia pada 2022.

Ini memastikan, bahwa transformasi ekonomi digital, menjadi salah satu topik utama yang diusung dalam G20 di jalur keuangan atau finance track.

”Kembali pada Mei 2019 kami menerbitkan visi kami tentang sistem pembayaran Indonesia. 10 bulan sebelum pandemi, kami meluncurkannya,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam Casual Talks On Digital Payment Innovation Of Banking, Senin 14 Februari 2022.

Menurut Gubernur BI, pihaknya perlu mengintegrasikan potensi ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Dari perbankan digital, fintech, hingga Ecommerce, dalam satu sistem yang mempermudah akses keuangan di mana pun berada.

Perry menuturkan, BSPI 2025, adalah arah kebijakan sistem pembayaran Bank Indonesia untuk menavigasi peran industri sistem pembayaran di era ekonomi dan keuangan digital.

Blueprint itu berisi lima Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025 yang dilaksanakan oleh lima working group.

Lima itu antara lain

  • Open banking
  • Sistem Pembayaran Ritel
  • Sistem Pembayaran Nilai Besar
  • Infrastruktur Pasar Keuangan, Data dan Digitalisasi
  • Reformasi Regulasi, Perizinan, dan Pengawasan.

BSPI 2025 akan terwujud melalui 23 key deliverables, yang akan implementasinya secara bertahap. Dalam kurun waktu sejak 2019 sampai dengan 2025.

Terkait Presidensi G20, Perry mengaku sangat bersyukur. Karena sebelum pandemi melanda, pemerintah melalui BI telah memiliki pedoman transformasi digital di sektor keuangan.

Sehingga, ketika pandemi mobilitas masyarakat di sektor keuangan tidak terhambat dan masih bisa berlanjut, meski ada sedikit hambatan tetapi tidak cukup berarti mengganggu aksesibilitas sistem keuangan.

Perry menjelaskan, digitalisasi yang menjadi salah satu agenda utama di jalur keuangan. Mendorong Indonesia mengajak seluruh negara terutama anggota G20, untuk memandang pentingnya memperbesar operasi pembayaran di lintas batas. Sehingga akses keuangan global bisa tanpa ketimpangan antarnegara.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Integrasi CKG dan Imunisasi Perkuat Komitmen Pemerintah Membangun Generasi Sehat

Oleh : Aditya Akbar )*Peningkatan kualitas kesehatan anak menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan generasi Indonesia di masa depan. Karena itu, masyarakat perlu mendukung berbagai program kesehatan yang dijalankan pemerintah, termasuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan imunisasiyang kini diperkuat melalui integrasi layanan bagi bayi hingga anak sekolah. Langkah tersebutmenjadi bukti nyata bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan penyakit sejak dini.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa mulai 2026 pemerintah mengintegrasikan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis dengan imunisasi anak sekolah menjadi satu program terpadu. Kebijakan ini diambil untuk memperluas cakupan imunisasi sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan layanan kesehatan di lingkungan sekolah, terutama saattahun ajaran baru dimulai.Menurut Budi Gunadi Sadikin, pada 2025 terjadi penurunan cakupan imunisasi pada kelompokanak sekolah. Salah satu penyebabnya adalah pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis yang berjalanbersamaan dengan imunisasi sehingga terjadi benturan jadwal maupun penggunaan tenagakesehatan. Akibatnya, sumber daya yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kedua kegiatan berjalan secara terpisah.Melalui penggabungan program tersebut, pemerintah berharap pemeriksaan kesehatan danimunisasi dapat dilakukan secara bersamaan tanpa menambah beban tenaga kesehatan di lapangan. Selain meningkatkan efektivitas layanan, integrasi ini juga diharapkan memudahkanedukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi rutin bagi anak usia sekolah.Pemerintah juga berencana melaksanakan Bulan Imunisasi Anak Sekolah pada November 2026 dengan fokus pada peningkatan cakupan vaksin difteri dan tetanus. Program tersebut diharapkanmampu mengejar target imunisasi yang belum tercapai sekaligus memperkuat perlindungan anakdari penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi.Dalam upaya memperluas cakupan imunisasi nasional, pemerintah memanfaatkan berbagaimomentum penting sepanjang tahun. Pada Pekan Imunisasi Dunia yang berlangsung pada April 2026, sekitar 130 ribu anak dan 17 ribu orang dewasa berhasil memperoleh layanan imunisasi. Capaian tersebut menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadappentingnya vaksinasi.Program serupa juga akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Anak Nasional pada Juli, peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus, serta Hari Kesehatan Nasional pada November. Pemerintah menargetkan tambahan layanan imunisasi bagiratusan ribu anak dan puluhan ribu orang dewasa melalui berbagai momentum tersebut.Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa saat ini program imunisasi nasional telah mencakup 14 jenis antigen yang diberikan kepada bayi, anak di bawah dua tahun, anak sekolah, hinggakelompok dewasa. Pemerintah juga menambahkan tiga jenis vaksin baru dalam beberapa tahunterakhir, yakni PCV, HPV, dan rotavirus, guna memperluas perlindungan masyarakat terhadapberbagai penyakit menular.Keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir terlihat dari meningkatnya cakupan imunisasipada kelompok bayi. Hingga Mei 2026, capaian imunisasi bayi meningkat sebesar 5,8 persendibandingkan periode yang sama pada 2025. Peningkatan ini menunjukkan bahwa berbagailangkah pemerintah dalam memperluas akses layanan kesehatan mulai memberikan hasil positif.Meski demikian, sejumlah daerah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan cakupanimunisasi. Pada kelompok bayi, Aceh dan Papua masih mencatatkan angka yang relatif rendah. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena rendahnya imunisasi berpotensi memicukembali munculnya penyakit menular yang sebelumnya berhasil dikendalikan.Peningkatan cakupan juga terjadi pada kelompok anak di bawah usia dua tahun. Namun, Sumatera...
- Advertisement -

Baca berita yang ini