Insinyur AS Jual Informasi Rahasia Senilai Ratusan Ribu USD

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Seorang insinyur nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang memiliki akses ke dalam badan rahasia militer dituduh mencoba menjual informasi mengenai desain kapal selam bertenaga nuklir.

Dalam pengaduan pidana yang merinci tuduhan terkait spionase terhadap Jonathan Toebbe, Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa Toebbe menjual informasi ke kontak yang ia yakini mewakili kekuatan asing.

Toebbe yang berusia 42 tahun itu ditangkap di West Virginia pada Sabtu (9/10) bersama dengan pasangannya yang berusia 45 tahun, Diana. Pasangan tersebut berasal dari Annapolis, Maryland.

FBI mengatakan skema itu dimulai pada April 2020, ketika Toebbe yang merupakan seorang pegawai pemerintah AS sejak 2012 mengirim paket dokumen Angkatan Laut ke pemerintah asing. Ia mengatakan tertarik untuk menjual manual operasi, laporan kinerja, dan informasi sensitif lainnya.

Pihak berwenang menduga Toebbe menulis email kepada seseorang di mana ia memberikan intruksi dan menyarankan hubungan rahasia, sehingga mereka dapat membeli lebih banyak data.

“Saya minta maaf atas terjemahan yang buruk ini ke dalam bahasa Anda. Tolong teruskan surat ini ke badan intelijen militer Anda. Saya yakin informasi ini akan sangat berharga. untuk bangsa Anda. Ini bukan tipuan,” demikian bunyi email Toebbe, melansir abc.net.au, Senin, 11 Oktober 2021.

Sebuah operasi penyamaran berlangsung selama berbulan-bulan di mana seorang agen menyamar sebagai perwakilan dari pemerintah asing menawarkan untuk membayar ribuan USD dalam mata uang kripto untuk informasi yang ditawarkan oleh Toebbe.

Pada Juni, agen yang menyamar mengirim uang senilai 10.000 USD dalam cryptocurrency kepada Toebbe, menggambarkannya sebagai tanda itikad baik dan kepercayaan.

Beberapa pekan kemudian, agen federal mengawasi saat Toebbes tiba di lokasi yang disepakati di West Virginia untuk melakukan transaksi.

FBI menemukan kartu memori biru yang dibungkus plastik dan ditempatkan di antara dua potong roti di atas sandwich selai kacang, menurut dokumen pengadilan.

“FBI menunjukkan isi kartu memori kepada seorang ahli Angkatan Laut AS, yang menentukan bahwa catatan tersebut termasuk elemen desain dan karakteristik kinerja reaktor kapal selam kelas Virginia,” kata Departemen Kehakiman.

Dokumen pengadilan menggambarkan kapal selam itu sebagai kapal selam serangan cepat rudal jelajah bertenaga nuklir.

Kartu memori juga menyertakan pesan yang diketik yang sebagian berbunyi: “Saya harap pakar Anda sangat senang dengan sampel yang diberikan dan saya memahami pentingnya pertukaran kecil untuk menumbuhkan kepercayaan kita.”

FBI melakukan pertukaran dead-drop serupa selama beberapa bulan berikutnya, termasuk satu pada bulan Agustus di Virginia, di mana Toebbe dibayar sekitar 70.000 USD. Sebagai imbalannya, dia menyerahkan sebungkus permen karet yang menyembunyikan kartu memori lain.

Pengaduan tersebut menuduh pelanggaran Undang-Undang Energi Atom, yang menjadikannya kejahatan untuk mengungkapkan informasi tentang senjata atom atau bahan nuklir dengan tujuan merugikan Amerika Serikat.

“Toebbe mulai bekerja untuk pemerintah AS pada 2012, memegang izin keamanan rahasia dan mengkhususkan diri dalam propulsi nuklir angkatan laut,” ucap FBI.

Dia telah ditugaskan ke laboratorium milik pemerintah di daerah Pittsburgh yang menurut para pejabat bekerja pada tenaga nuklir untuk Angkatan Laut AS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini