Innalilahi, Ayahanda Wagub Jatim Emil Dardak Meninggal karena Tabrakan

Baca Juga

MATA INDONESIA, SURABAYA – Innalilahi wa innaillaihi rojiun. Kecelakaan terjadi di Tol Pemalang-Batang, Jawa Tengah pada Sabtu, 20 Agustus 2022 dini hari sekitar pukul 03.20 WIB. Dalam kecelakaan itu, ayah dari Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Hermanto Dardak, meninggal dunia.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iqbal Alqudusy, mengatakan mobil Toyota Innova yang ditumpangi Hermanto menabrak truk Hino di Tol Pemalang-Batang. Saat itu, mobil yang dikemudikan pengemudi bernama AS membawa Hermanto tengah melaju menuju Jakarta.

Kemudian, dalam perjalanannya, sang sopir AS mengantuk sehingga menabrak kendaraan truk Hino dengan nomor polisi K 1909 BH yang berada di depannya. ”Sesampainya di TKP, pengemudi mengantuk sehingga menabrak bagian belakang Truk Hino. Posisi akhir, kendaraan Innova mengalami kerusakan berat di bagian depan dan samping kiri,” kata Iqbal, Sabtu, 20 Agustus 2022.

”Sementara truk Hino mengalami kerusakan ringan di bagian belakang,” ujarnya.

Hermanto Dardak pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pekerjaan Umum di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2010-2014. Hermanto menjabat Wakil Menteri Pekerjaan Umum Kabinet Indonesia Bersatu II mendampingi Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto.

Saat ini, jenazah Hermanto Dardak masih berada di RS Poso Pekalongan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini