Ini Pesan Wamenkes pada Peraih Penghargaan Kabupaten Kota Sehat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kepala daerah harus membuat inovasi untuk bisa memberdayakan masyarakat dan semua pengambil keputusan dalam menjaga linkungan serta kesehatan.

Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan selama hampir 2 tahun memberikan kesadaran bahwa kesehatan adalah segalanya. Kesehatan juga menjadi syarat mutlak dari pembangunan manusia Indonesia di masa yang akan datang.

Penghargaan Swasti Saba Kabupaten Kota Sehat dan juga Penghargaan Penerapan Protokol Kesehatan Bagi Tempat Pengelolaan Pangan dilakukan tiap dua tahun sekali dan digelar pada tahun ganjil.

Ada empat kategori penghargaan Swasti Saba yaitu Padapa, Wiwerda, Wistara dan Tim Pembina provinsi terbaik. Ada 7 kabupaten kota yang mendapatkan penghargaan Swasti Saba kategori Pandapa yaitu: Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Bandung, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Tegal, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Banjar dan Kota Sukabumi.

Sedangkan penerima Swasti Saba kategori wiwerda ada 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Tebo, Kota Pangkal Pinang, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Nganjuk. Untuk kategori Swasti Saba Wistara diterima oleh 25 kabupaten kota yaitu Kota Padang Panjang, Kabupaten Sukabumi, Kota Semarang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kota Blitar, Kota Tomohon, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Barru, Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Pare-pare, Kabupaten Bau bau dan Kabupaten Palopo.

Sedangkan kategori Swasti Saba Kabupaten Kota Sehat Tim Pembina Provinsi terbaik diterima oleh Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Penghargaan Swasti Saba Kabupaten Kota Sehat dan juga Penghargaan Penerapan Protokol Kesehatan Bagi Tempat Pengelolaan Pangan merupakan bentuk apresiasi atas inovasi dan juga kemandirian, kerja aktif yang telah dilakukan oleh bupati, wali kota dan juga gubernur. Meski terkendala pandemi, Bapak Ibu bisa melakukan koordinasi untuk bisa melaksanakan Kabupaten Kota Sehat,” katanya.

“Saya memberikan apresiasi kepada Bapak Ibu yang hari ini berhasil meraih penghargaan. Salah satu bagian penting dalam RPJMN adalah ketahanan kesehatan dan itu sudah bisa diraih oleh Bapak Ibu yang mendapatkan penghargaan Swasti Saba Kabupaten Kota Sehat,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini