Ini Alasan BI Kembali Turunkan Suku Bunga Acuan 25 Bps

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basic point (bps) menjadi 5,50 persen dari sebelumnya di level 5,75 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa ada tiga alasan utama di balik pemangkasan tingkat suku bunga acuan ini.

“Pertama, inflasi (kenaikan harga secara umum) yang tetap terjaga. Inflasi untuk tahun 2019 akan berada di bawah titik tengah dari rentang yang dipatok BI yaitu sebesar 3,5 plus minus 1 persen,” ujar Perry di Jakarta, Kamis 22 Agusutus 2019.

Kedua, imbal hasil dari aset keuangan di Indonesia yang menarik sehingga dipercayai akan tetap bisa menarik minat investor asing dan mendukung ketahanan stabilitas eksternal.

Ketiga, Perry mengatakan bahwa pemangkasan tingkat suku bunga acuan dieksekusi sebagai langkah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian yang menghantui perekonomian global. Ia menekankan pentingnya mengambil langkah antisipasi di tengah besarnya risiko perlambatan ekonomi global.

Perry juga mengatakan bahwa berlanjutnya tensi perang dagang dan konflik geopolitik ikut membuat ekonomi AS tercatat melambat, akibat penurunan ekspor dan investasi nonresidensial. Begitu juga ekonomi negara lain. “Pelemahan ekonomi global terus menekan harga komoditas termasuk harga minyak,” kata Perry.

Maka dinamikan ekonomi global perlu dipertimbangkan, kata Perry, dalam upaya menjaga ekonomi domestik dan aliran modal asing ke dalam negeri. “Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA),” ujar dia.

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini