Indonesia Sayangkan Sikap Myanmar yang Menolak Bantuan ASEAN

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyayangkan sikap Myanmar yang tidak menyambut baik uluran tangan ASEAN sebagai keluarga untuk membantu Myanmar keluar dari krisisnya.

Pesan ini disampaikan Presiden RI Joko Widodo saat menghadiri Konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN mulai Selasa 26 Oktober 2021 yang tidak dihadiri pemimpin junta militer Min Aung Hlaing.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi saat menyampaikan poin-poin yang disampaikan Presiden RI mengatakan keputusan ASEAN untuk mengundang wakil Myanmar pada tingkat non-politik dalam KTT adalah sebuah keputusan yang berat, tapi harus dilakukan.

”Akses yang diminta untuk dapat bertemu semua pihak terkait sampai saat terakhir menjelang KTT masih belum diberikan oleh militer Myanmar,” kata Retno.

Menurut Retno di pertemuan itu, Presiden mengingatkan penting untuk tetap menjaga penghormatan terhadap prinsip-prinsip non interference.

Namun di pihak lain, anggota ASEAN juga berkewajiban menjunjung tinggi prinsip-prinsip lain dalam piagam ASEAN, seperti demokrasi, good governance penghormatan HAM, dan pemerintah yang konstitutional.

Presiden menegaskan bahwa keputusan ini juga memberikan ruang bagi ASEAN untuk tetap menjalankan kemajuan-kemajuan, sebagaimana janji pada negara-negara di Asia Tenggara.

“Sebagai satu keluarga, Presiden mengatakan bahwa uluran tangan ASEAN harus tetap ditawarkan kepada rakyat Myanmar, termasuk pemberian bantuan kemanusiaan kepada rakyat Myanmar,” kata Retno.

“Rakyat Myanmar memiliki hak untuk hidup damai dan sejahtera,” lanjutnya.

Retno mengatakan Indonesia secara konsisten mengharapkan demokrasi melalui proses yang inklusif dapat segera dipulihkan Myanmar.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini