Guru Besar UGM: Kebijakan Relaksasi Bantu Percepatan Pemulihan Ekonomi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih mengatakan serangkaian serangkaian kebijakan relaksasi yang diberikan oleh pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), membantu masyarakat dan pelaku jasa keuangan.

“Yang sangat penting bagi Indonesia pada saat ini adalah percepatan pemulihan ekonomi. Karena itu adalah kata kunci penting supaya kita ini bisa menjaga stabilitas dan kekuatan ekonomi,” ujar Sri di Jakarta, Kamis 18 Maret 2021.

Jika sudah pulih, menurutnya stabilitas sistem keuangan sudah cukup kuat dan bisa lebih bertahan lama.

Menurut Sri, relaksasi tersebut memang diperlukan dalam situasi darurat seperti saat pandemi, dan telah terbukti bisa menjaga stabilitas sistem keuangan di Tanah Air.

Menurut Sri, apabila relaksasi kredit atau pembiayaan diperpanjang enam bulan atau setahun ke depan, hal itu tidak berdampak secara fundamental menggerogoti stabilitas sistem keuangan domestik namun dengan catatan pemulihan ekonomi terjadi lebih cepat.

Kalau pemulihan ekonomi cepat, kata dia tidak akan menimbulkan permasalahan serius dan itu tetap bisa menjaga stabilitas keuangan dengan baik. Hanya memang permasalahan yang muncul kalau tidak bisa segera pulih karena ada ancaman dari luar di mana negara-negara maju besar suku bunganya naik cepat, ini perlu diwaspadai.

“Saya tidak yakin bahwa dengan kelonggaran yang ada, rasa-rasanya tidak mungkin rekayasa keuangan dilakukan dalam jangka panjang,” katanya.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Periode 2015-2019 itu mengatakan, relaksasi pada dasarnya adalah rekayasa keuangan di mana secara kenyataan apabila menggunakan standar normal maka perusahaan dapat dikatakan sudah ‘collapse’.

“Karena secara de facto kan dana dari kredit itu tidak masuk. Jadi relaksasi ini tidak bisa lama. Oleh karena itu, yang perlu kita waspadai apabila pemulihan ekonomi kita berjalan lambat dan guncangan yang terjadi karena kenaikan suku bunga negara maju menimbulkan instabiltas keuangan negara-negara sedang berkembang terutama seperti kita yang banyak tergantung dengan dana dari luar, ini jadi masalah serius,” ujar Sri.

Per 8 Februari 2021, restrukturisasi kredit industri perbankan nasional sudah mencapai Rp987,48 triliun dari 7,94 juta debitur. Untuk sektor UMKM, restrukturisasi Rp388,33 triliun dari 6,15 juta debitur, sedangkan sektor non UMKM mencapai Rp 599,15 triliun dari 1,79 juta debitur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini