Fokus Latih Inter, Conte Tak Punya Beban dengan Juventus

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Meski dikenal sebagai salah satu legenda hidup Juventus, Antonio Conte tak memiliki beban atau merasa bersalah dengan mantan klubnya tersebut.

Conte mengaku ia saat ini lebih fokus untuk mengurusi Inter Milan, ketimbang memikirkan kritikan para penggemar Juventus yang tak terima dirinya melatih klub lawan.

“Sangat normal saya melatih klub berbeda, dan akan membawa Inter ke tempat yang baik,” ujar Conte, seperti dikutip Football Italia, Kamis 6 Juni 2019.

Dirinya menyebut saat ini adalah yang paling tepat untuk menjawab semua harapan pendukung Inter. Seperti diketahui, Inter sudah delapan musim terakhir ini berada dalam masa-masa sulit tanpa gelar.

Conte menjanjikan trofi untuk skuat biru hitam. Menurut dia, hanya dengan kerja keras, asa demikian bisa tercapai. “Saya perlu bekerja keras. Itu ada dalam DNA saya,” ujar eks pelatih Chelsea tersebut.

Sebelumnya fans Juventus sempat membuat petisi. Isinya mencabut nama Conte dari Allianz Stadium. Hingga kini, pihak si Nyonya Tua belum merespons hal tersebut.

Berita Terbaru

Menjaga Aspirasi Tetap Murni di Tengah Agenda Pemulihan Ekonomi

Oleh: Dhita Karuniawati )*Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, masukan, dan aspirasi kepada pemerintah. Kebebasan berpendapat menjadi salah satu fondasipenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena memungkinkan lahirnyakebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Namun, di tengah upayamemperkuat pemulihan ekonomi nasional, penyampaian aspirasi perlu tetap dijagaagar tidak kehilangan substansinya akibat tindakan yang justru merugikan masyarakatluas.Demonstrasi merupakan instrumen demokrasi yang sah dan telah menjadi bagian dariperjalanan sejarah Indonesia. Berbagai perubahan kebijakan lahir dari dialog yang diawali oleh kritik masyarakat. Oleh karena itu, penyampaian aspirasi yang dilakukansecara damai dan bertanggung jawab bukan hanya menjadi hak warga negara, tetapijuga bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.Di era digital, dinamika penyampaian aspirasi tidak lagi hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan memengaruhi persepsi masyarakat secara luas. Kondisi ini membuka peluang bagimunculnya disinformasi, provokasi, maupun narasi yang dapat memperkeruh situasiapabila tidak disikapi secara bijaksana. Karena itu, kedewasaan dalam bermedia sosialmenjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas demokrasi.Dalam konteks tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajakmahasiswa untuk menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi sertameningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hoaks dan berbagai bentukprovokasi di ruang digital yang berpotensi memicu eskalasi situasi. Imbauan tersebutjuga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawabagar ruang digital tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang menyesatkan dan dapat mengganggu stabilitas sosial. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat ruang digital kini memiliki pengaruh besarterhadap dinamika di lapangan. Narasi yang dibangun melalui media sosial mampumenggerakkan opini publik, bahkan memicu tindakan spontan yang belum tentudidasarkan pada informasi yang utuh. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi kebutuhanmendesak agar masyarakat dapat memilah informasi secara kritis sebelummenyebarkannya.Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan juga menunjukkan komitmen terhadappenyampaian aspirasi yang bermartabat. Ketua Umum Pimpinan Pusat KesatuanMahasiswa Hindu Dharma Indonesia...
- Advertisement -

Baca berita yang ini