Fix, Indonesia Batal Tinggalkan AFF

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Wacana Indonesia meninggalkan AFF dan bergabung ke EAFF dipastikan batal. Hal itu ditegaskan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Sempat muncul wacana Indonesia akan meninggalkan AFF (Konfederasi Sepak Bola Asia Tenggara) dan bergabung ke EAFF (Konfederasi Sepak Bola Asia Timur). Wacana ini dipicu setelah Indonesia merasa kecewa ketika gagal lolos ke semifinal Piala AFF U-19.

Saat itu, Vietnam dan Thailand-lah yang berhasil lolos dari penyisihan grup meski sama-sama mengemas 11 poin dengan Indonesia karena unggul head-to-head. Di laga terakhir, Indonesia menuding Vietnam dan Thailand ‘main mata’ karena sama-sama tak ingin meraih kemenangan.

PSSI sempat mengirimkan surat ke AFF terkait protes pertandingan Vietnam melawan Thailand. Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya AFF memberikan jawaban.

Dalam surat balasannya, AFF tak menemukan adanya indikasi kecurangan dalam pertandinga Vietnam melawan Thailand. Setelah berpikir matang-matang, PSSI menegaskan Indonesia tak jadi meninggalkan AFF.

“Surat sudah dibalas AFF, kami terima karena keputusan di tangan mereka. Kami harus lapang dada,” ujar Iriawan.

“Kami tetap di AFF karena negara kami ada di kawasan ASEAN, sehingga kami tingkatkan saja permainan kita. Kita balas Vietnam dan Thailand, seperti sekarang, kita bisa menang atas Vietnam (Piala AFF U-16),” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menjaga Aspirasi Tetap Murni di Tengah Agenda Pemulihan Ekonomi

Oleh: Dhita Karuniawati )*Demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, masukan, dan aspirasi kepada pemerintah. Kebebasan berpendapat menjadi salah satu fondasipenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena memungkinkan lahirnyakebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan publik. Namun, di tengah upayamemperkuat pemulihan ekonomi nasional, penyampaian aspirasi perlu tetap dijagaagar tidak kehilangan substansinya akibat tindakan yang justru merugikan masyarakatluas.Demonstrasi merupakan instrumen demokrasi yang sah dan telah menjadi bagian dariperjalanan sejarah Indonesia. Berbagai perubahan kebijakan lahir dari dialog yang diawali oleh kritik masyarakat. Oleh karena itu, penyampaian aspirasi yang dilakukansecara damai dan bertanggung jawab bukan hanya menjadi hak warga negara, tetapijuga bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.Di era digital, dinamika penyampaian aspirasi tidak lagi hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan memengaruhi persepsi masyarakat secara luas. Kondisi ini membuka peluang bagimunculnya disinformasi, provokasi, maupun narasi yang dapat memperkeruh situasiapabila tidak disikapi secara bijaksana. Karena itu, kedewasaan dalam bermedia sosialmenjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas demokrasi.Dalam konteks tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajakmahasiswa untuk menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi sertameningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hoaks dan berbagai bentukprovokasi di ruang digital yang berpotensi memicu eskalasi situasi. Imbauan tersebutjuga menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawabagar ruang digital tidak menjadi sarana penyebaran informasi yang menyesatkan dan dapat mengganggu stabilitas sosial. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat ruang digital kini memiliki pengaruh besarterhadap dinamika di lapangan. Narasi yang dibangun melalui media sosial mampumenggerakkan opini publik, bahkan memicu tindakan spontan yang belum tentudidasarkan pada informasi yang utuh. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi kebutuhanmendesak agar masyarakat dapat memilah informasi secara kritis sebelummenyebarkannya.Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan juga menunjukkan komitmen terhadappenyampaian aspirasi yang bermartabat. Ketua Umum Pimpinan Pusat KesatuanMahasiswa Hindu Dharma Indonesia...
- Advertisement -

Baca berita yang ini