Erdogan Minta Uni Eropa Penuhi Janji terhadap Turki

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Secara teknis Turki berada di lintas benua, di mana 95% wilayahnya berada di Asia dan hanya 5% di Eropa. Meski demikian, Presiden Recey Tayyip Erdogan melihat negaranya merupakan bagian dari Eropa.

Ankara sendiri menjadi kandidat resmi untuk keanggotaan Uni Eropa. Akan tetapi, dalam beberapa pekan terakhir, para anggota Uni Eropa telah meningkatkan prospek sanksi terhadap Turki atas misi eksplorasi gasnya di kawasan Mediterania Timur.

Bukan hanya itu, retorika Turki mengenai Siprus kian memperburuk ketegangan dengan anggota Uni Eropa. Dalam kunjungannya, Erdogan menyerukan solusi “dua negara” yang setara di Siprus.

“Kami selalu melihat diri kami sebagai bagian dari Eropa. Kami memilih untuk mendukung Eropa selama mereka tidak memaksa kami mencari tempat lain,” kata Erdogan, melansir Associated Press, Senin, 23 November 2020.

“Tepati janji Anda untuk negara kami, dari keanggotaan penuh hingga masalah pengungsi. Mari kita menjalin kerja sama yang lebih dekat dan lebih efisien secara bersama-sama,” sambungnya.

Ankara telah mengirim penelitian dan melakukan pengeboran di wilayah yang disengketakan Yunani dan Siprus, yakni di laut Mediterania Timur. Hal ini bukan hanya meningkatkan ketegangan Turki dengan negara-negara anggota Uni Eropa, tetapi juga membuat Turki dibayang-bayangi sanksi.

Para pemimpin Eropa akan bertemu di Brussel pada 10-11 Desember dan menyuarakan keprihatinan atas aktivitas Turki di beberapa bagian Mediterania yang secara sepihak diklaim oleh Ankara sebagai zona ekonominya.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas mendesak Turki menghentikan “provokasi” di Mediterania atau menghadapi kemungkinan sanksi. Dalam upaya memperbaiki hubungan, Erdogan mengutus juru bicaranya, Ibrahim Kalin ke Brussel.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini