Empat Turnamen Top Bulutangkis dalam Satu Tahun Sangat Berat

Baca Juga

MATA INDONESIA, KUALA LUMPUR – Dampak dari pandemi Covid-19 memaksa terjadinya perubahan jadwal turnamen top bulutangkis. Kini, empat turnamen top akan digelar dalam satu tahun.

Olimpiade, yang sejatinya digelar Agustus 2020, diundur ke 24 Juli-2 Agustus 2021. Kemudian, Kejuaraan Dunia 2020 juga diundur menjadi 29 November-5 Desember 2021. Teranyar, Piala Thomas dan Uber 2020 juga diundur ke 2021 dan belum ditentukan tanggalnya. Sebelumnya, di 2021 sudah ada Piala Sudirman yang digelar di Suzhou, China, 23-30 Mei.

Bagi fans bulutangkis, tentu adanya empat turnamen dalam satu tahun menjadi kebahagiaan tersendiri. Tapi, tidak demikian dengan pebulutangkis. Mereka akan dihadapkan dengan jadwal super padat. Selain empat turnamen top itu, masih ada banyak turnamen BWF World Tour yang harus dijalani.

Mantan pebulutungkis top Malaysia, Lee Chong Wei yakin dengan adanya empat turnamen top dalam satu tahun akan membuat pemain kesulitan untuk fokus. Selain itu, faktor stamina bisa menjadi kendala.

“Empat turnamen besar di tahun yang sama terlalu banyak. Saya bisa menebak banyak negara akan mengeluh kepada BWF karena padatnya jadwal,” ujar Lee Chong Wei, dikutip dari The Star, Rabu 16 September 2020.

“Jika saya masih bermain, saya ingin bermain di empat turnamen tersebut. Tapi tak mungkin Anda bisa mempersiapkan diri dengan baik dan dalam kondisi puncak di empat turnamen tersebut,” katanya.

“Jika harus memilih, Olimpiade jadi prioritas utama. Kemudian berturut-turut Piala Thomas, Kejuaraan Dunia, baru Piala Sudirman. Kenapa Piala Sudirman terakhir? Karena tim campuran bukan keahlian kami (Malaysia),” tuturnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat.Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman.Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor.Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...
- Advertisement -

Baca berita yang ini