Ekonomi Digital Jadi Salah Satu Andalan Penerimaan Negara

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Indonesia saat ini masih akan mengandalkan penerimaan pajak, yang salah satunya dari sektor ekonomi digital, industri e-commerce, dan perusahaan luar negeri yang masuk ke Indonesia. Hal itu dikatakan oleh Managing Partner Tax RSM Indonesia Ichwan Sukardi.

Menurutnya, pada tahun depan pengeluaran atau belanja pemerintah masih akan difokuskan untuk sektor kesehatan, serta pemulihan Covid-19.

“Program jaring pengaman sosial, pembangunan sumber daya manusia, dan pengembangan infrastruktur,” katanya.

Ia menyebut, anggaran belanja negara pada tahun ini juga sebagian besar dialihkan pada penanganan Covid-19 dan insentif usaha dengan tujuan mengupayakan Indonesia bisa melalui masa pandemi.

Sebesar 92,2 persen, kata Ichwan, realisasi insentif pajak dialihkan ke usaha yang telah ditentukan pemerintah seperti tunjangan PPh 21, pajak UMKM, pembebasan PPh 22, pengurangan PPh 25 dan lainnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pada tingkat global, peran Indonesia sebagai presiden G20 mendorong untuk tercapainya kesepakatan global pemajakan sektor digital, dan komitmen pemajakan atas karbon.

Dua pilar yang digagas negara OECD/G20 menjadi tantangan perpajakan di era ekonomi digital, di mana pilar pertama adalah alokasi profit kepada negara sumber, dan pilar kedua yaitu penerapan pajak minimum bagi perusahaan multinasional.

“Reformasi pajak merupakan kunci untuk memperbaiki pendapatan negara. Untuk itu kita harus bisa memahami trend pajak tahun 2022 di bidang administrasi pajak, kebijakan perpajakan, dan pemeriksaan pajak,” katanya.

Secara keseluruhan, RSM Indonesia memperkirakan bisnis akan bangkit seiring dengan pemulihan ekonomi, akan ada lebih banyak dorongan teknologi yang diadopsi okantor pajak untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi administrasi perpajakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini