MATA INDONESIA, LONDON – Seorang perawat mengaku pernah memiliki hubungan terlarang dengan pemerkosa kamar mayat perempuan dan anak-anak, David Fuller. Ia mengaku sangat beruntung karena masih dapat hidup.
David Fuller mengakui pembunuhan Wendy Knell dan Caroline Pierce di Tunbridge Wells, Kent, tahun 1987 setelah kejahatan itu tidak terpecahkan selama tiga dekade.
Dia memfilmkan dirinya melakukan serentetan serangan terhadap mayat di kamar mayat di dalam Rumah Sakit Kent dan Sussex yang sekarang ditutup dan Rumah Sakit Tunbridge Wells.
Fuller juga mengaku bersalah atas 51 pelanggaran lainnya, termasuk 44 dakwaan terkait dengan 78 korban yang diidentifikasi di kamar mayat tempat dia bekerja sebagai tukang listrik.
Perawat yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Sunday Mirror bahwa Fuller adalah pria sempurna yang memanjakannya dengan tiket konser dan koktail mewah.
Dia menggambarkan sosok Fuller sebagai pria biasa, pendiam, sempurna, dan bahkan tak pernah marah. Meski demikian, pasangan ini memulai perselingkuhan tahun 1990 ketika Fuller menikah.
“Memikirkan saya berhubungan dengan seseorang yang melakukan sesuatu yang begitu mengerikan adalah hal yang mengerikan. Saya sangat beruntung dia tidak membunuhku,” kata perawat tersebut, melansir Yahoo News.
“Saya cukup sadar akan pembunuhan di tempat tidur dan saya sangat gugup. Pembunuhan itu ada dalam pikiran saya dan banyak pikiran wanita muda. Sedikit yang saya tahu bahwa saya benar-benar berkencan dengan orang yang bertanggung jawab. Di benak saya, saya masih berpikir, mengapa saya selamat?” sambungnya.
Perawat itu juga mengatakan bahwa ia sama sekali tidak melihat sisi buruk Fuller. Ia bahkan tidak percaya bahwa mantan kekasihnya itu adalah terpidana nekrofilia yang melakukan pelecehan seksual terhadap 99 mayat perempuan dan anak-anak.
“Tidak ada yang membuat saya percaya bahwa dia adalah orang yang kami temukan sekarang. Dia tidak pernah menunjukkan penyimpangan di tempat tidur. Dia benar-benar biasa dan normal,” sambungnya.
“Tidak ada sama sekali. Saya masih tidak percaya bahwa dia mampu dan sebagian dari diri saya masih tidak ingin mempercayainya, tetapi saya juga ingin dia membayar untuk apa yang telah dia lakukan,” ucapnya.
Sampai saat ini perawat itu masih tidak percaya tentang pelanggaran kamar mayat sampai berita tersebut menghebohkan Negeri Ratu Elizabeth. Ia percaya ada perempuan lain –yang pernah Fuller kencani, mengalami masa traumatis seperti dirinya.
“Dia bukan tipe pria yang mengajak saya makan malam atau menawarkan untuk membawa saya ke mana saja, tapi dia selalu menyenangkan dan ramah. Dia tidak akan pernah marah. Sulit untuk mengetahui apa yang ada di kepalanya,” kenangnya.
“Saya tahu dia tidak bahagia dengan istrinya. Tetapi hubungan kami berakhir karena dia tidak menginginkan apa yang saya inginkan dan dia tidak ingin bersama saya lagi. Saya harus menerima bahwa dia tidak menginginkan saya dan dia menginginkan orang lain,” tuntasnya.