Cina Disambut Baik kala Masuk ke Pusaran Konflik Palestina-Israel

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masuknya Cina dalam upaya penengahan konflik antara Palestina dan Israel mendapat sambutan yang baik.

Palestina menyatakan siap untuk ikut tawaran Cina yang akan memediasi kedua negara bertikai, serta mempertemukan para pemimpin.

Upaya Cina ini mendapat pujian tinggi dari anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, Wasel Abu Yousef.

Bagi Yousef, Cina sudah menunjukkan niat baik mendukung terwujudnya perjanjian 1967, yakni berdirinya Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Cina sekaligus Penasihat Negara Wang Yi kepada Al Arabiya mengatakan pemerintah Negeri Tirai Bambu akan mengundang Israel dan Palestina dalam sebuah pembicaraan di Beijing untuk menentukan masa depan yang baik.

Meski tak merinci bagaimana pertemuan itu dipersiapkan, Wang sudah menunjukkan niat seriusnya, dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Turki UEA, hingga Oman untuk membicarakan rencana tersebut.

Namun, banyak pihak yang meminta Cina waspada dalam upaya rekonsiliasi Palestina-Israel ini.

Alasannya, mengingat Israel adalah negara kesayangan Amerika Serikat, yang selalu dibela mati-matian sejak dulu oleh presiden ke presiden Negeri Paman Sam.

Termasuk kepemimpinan Joe Biden-Kemala Harris, AS juga sudah menyatakan sikap yang intinya mendukung Israel. Meski tak sebrutal Donald Trump sebelumnya, namun ke mana dukungan AS sudah jelas.

Apalagi, hubungan AS dengan Cina hingga kini masih belum menemui titik damai yang pasti, setelah sejumlah konflik politik dan perang dagang yang membuat gaduh perekonomian dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini