Catat, Tidak Semua Penduduk Dapat Vaksin Covid19, Begini Langkahnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemerintah telah menetapkan hanya 170 juta jiwa atau sekitar 60 persen warga Indonesia yang akan disuntik vaksin Covid19.

Untuk memenuhi dua kali suntik dalam rangka vaksinasi tersebut, maka Indonesia membutuhkan 340 juta dosis vaksin dalam waktu satu tahun.

Untuk memperolehnya Indonsia melalui Bio Farma telah memulainya dengan melakukan uji klinis tahap 3 vaksin buatan Sinovac buatan Cina.

Setelah itu, melakukan produksi hingga distribusi dilakukan Bio Farma. Khusus untuk distribusi akan dilakukan hingga ke puskesmas untuk disuntikan ke masyarakat.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menegaskan BUMN farmasi tersebut akan mengedarkann vaksin yang benar-benar sesuai dengan peraturan ketat. Setelah melewati uji klinis yang ketat vaksin tersebut juga akan melalui audit Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Sehingga nanti masyarakat yakin bahwa vaksin Covid-19 yang akan diberikan kepada masyarakat, sudah sesuai dengan peraturan dari Badan POM yang pada akhirnya bisa menghentikan penyebaran virus Covid19,” ujar Honesti yang dikutip 18 Oktober 2020.

Direktur Registrasi Obat Badan POM Riska Andalusia, mengatakan, terus mengawal pengadaan vaksin tersebut dengan melakukan koordinasi bahkan pendampingan

Menurut Riska belum ada laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau efek samping yang berat atau serius di antara relawan vaksin Covid19.

Hasil dari uji klinis ini, dapat menjadi data pendukung bagi Badan POM saat mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid19 yang akan diajukan Bio Farma pada saat uji klinis fase 3 sudah berakhir.

Nantinya, hasil dari uji klinis fase 3 yang ada di Bandung ini, akan digabungkan dengan hasil uji klinis fase 3 yang ada di negara lain seperti Brazil, Chille, Turki dan Bangladesh.

Setelah uji klinis fase 3 selesai, vaksin Covid19 itu akan diproduksi Bio Farma yang didampingi BPOM untuk memastikan mutu, khasiat dan keamanannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kolaborasi Lintas Sektor Mempercepat Listrik Desa

Oleh : Antonius UtomoDi era peradaban modern saat ini, ketersediaan energi listrik telah melampaui fungsinya sebagaisekadar sumber penerangan semata. Khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal(3T), listrik merupakan infrastruktur dasar sekaligus prasyarat utama bagi terwujudnya keadilansosial, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, dan akselerasitransformasi digital. Oleh karena itu, perluasan akses kelistrikan hingga ke pelosok desa bukansekadar program pembangunan biasa, melainkan agenda strategis nasional yang mendesakdiselesaikan demi memastikan tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal dalam aruskemajuan zaman.Capaian pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) patutdiapresiasi secara memadai. Berdasarkan data terbaru, rasio elektrifikasi di Indonesia berhasilmenyentuh angka 99,83 persen pada triwulan pertama tahun 2026. Meski secara statistik makropencapaian tersebut menunjukkan keberhasilan yang sangat signifikan, sisa persentase sebesar0,17 persen sama sekali tidak boleh diabaikan. Angka tersebut pada hakikatnyamerepresentasikan masyarakat di wilayah geografis yang penuh tantangan, mulai pegununganterpencil hingga pulau terluar, yang masih menantikan kelistrikan. Hal ini menuntut kehadirannegara secara utuh untuk memastikan pemerataan pembangunan, menembus batas isolasi yang menghambat perbaikan tingkat kesejahteraan mereka.Langkah proaktif untuk menjangkau wilayah-wilayah tersulit tersebut terefleksikan dengansangat jelas dalam penyelenggaraan Alignment Forum Program Listrik Desa pada bulan Juli...
- Advertisement -

Baca berita yang ini