Bukan dari Indonesia, Pembuat Kabut Asap Adalah Perusahaan Malaysia dan Singapura

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Negara tetangga selalu sibuk menyalahkan Indonesia ketika kabut asap mengungkung langit mereka. Padahal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan pembakaran  itu dilakukan perusahaan-perusahaan Malaysia dan Singapura.

Parahnya, mereka yang masih melakukan pembakaran adalah bagian dari 42 korporasi asing yang sudah disegel KLHK di Sumatera dan Kalimantan.

“Di antara perusahaan yang disegel, ada beberapa perusahaan memiliki modal dari Singapura, tiga dari Malaysia. Sedang kami lakukan proses penyelidikan,” kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani saat konferensi pers di gedung Graha BNPB Jakarta, Sabtu 14 September 2019.

Rasio menjelaskan sekarang pemerintah sangat amat tegas menggunakan semua instrumen hukum untuk mencegah pembakaran lahan untuk membuka ladang. Individu maupun korporasi pasti bakal dimintai pertanggungjawabannya di muka hukum.

KLHK sekarang bekerja sama dengan kepolisian untuk menerapkan pasal-pasal berlapis agar menimbulkan efek jera. Dia juga meyakinkan proses hukum untuk pihak korporasi, termasuk perusahaan asal Malaysia dan Singapura, dengan menjerat individu di badan hukum.

Dalam penegakan hukum pidana ada sanksi perseorangan dan korporasi, bisa juga dua-duanya. Rasio menyontohkan kasus PT Surya Panen Subur di samping harus bayar denda Rp 486 miliar, direkturnya juga akan dipidana penjara badan.

Berita Terbaru

Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra)*Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannyamengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagimasyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukunganpemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satufondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untukmemastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkanproduktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosisteminovasi yang berdaya saing global.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwaperguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi risetnasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologidan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi risetIndonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terusdiperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilaitambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalampembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerakpertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan risetjuga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagikehidupan masyarakat.Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terusmemperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusatinovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengandunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagilahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasionalyang lebih modern.Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif...
- Advertisement -

Baca berita yang ini