Bisnis Asuransi Kendaraan Mulai Bangkit di Masa Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Meskipun daya beli masyarakat belum begitu meningkat di tengah pandemi Covid-19. Namun, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) optimis bahwa industri asuransi bakal bangkit, hal itu diikuti dengan tumbuhnya produksi manufaktur.

Direktur Eksekutif AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 cukup memukul kinerja lini bisnis asuransi kendaraan bermotor. Karakteristik bisnisnya membuat asuransi kendaraan sempat sulit tumbuh.

Menurut Dody, sekitar 80 persen asuransi kendaraan bermotor berasal dari bisnis pembiayaan (multifinance), yakni dari debitur yang mendapatkan pinjaman kredit dan mengasuransikan kendaraannya sebagai agunan. Banyaknya kredit macet membuat penutupan asuransinya turut terkendala.

Penurunan daya beli selama pandemi Covid-19 membuat masyarakat menahan konsumsi kendaraan bermotor. Penjualan kendaraan, baik secara tunai maupun melalui multifinance pun mengalami penurunan.

AAUI pun menilai bahwa manufaktur kendaraan sempat menahan produksi sehingga pasokan ke dealer menurun. Namun, menurut Dody, kondisinya mulai terlihat membaik pada kuartal II/2021 sehingga optimisme pertumbuhan kinerja pada tahun berjalan cukup cerah.

“Optimisme muncul dengan estimasi produksi dari manufaktur kendaraan. Adapun, daya beli masyarakat sepertinya masih belum pulih, karena prioritas kebutuhan saat ini adalah kebutuhan primer,” ujarnya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat bahwa penjualan mobil nasional mencapai 387.823 unit pada semester I/2021. Jumlah itu tumbuh 33,47 persen (year-on-year/yoy) dari sebelumnya yang sebanyak 290.582 unit.

Menurut Dody, pihaknya belum memperoleh laporan dari seluruh perusahaan asuransi umum terkait kinerja bisnis kuartal II/2021, sehingga belum terdapat gambaran kinerja asuransi mobil.

“Kalau melihat data kuartal I/2021 lalu memang pertumbuhan lini bisnis asuransi kendaraan masih ada tantangan. Namun, kami sangat mengapresiasi upaya pemerintah yang berusaha menggerakkan ekonomi dengan beberapa stimulus agar kegiatan ekonomi berjalan,” ujar Dody.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini