Berkat IKN, PUPR Sebut Kawasan Hutan di Kalimantan Justru Bertambah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hutan di Kalimantan akan semakin bertambah seiring pembangunan proyek ibu kota negara (IKN) Nusantara.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan tidak akan terjadi deforestasi pada hutan di Kalimantan.

Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis H Sumadilaga menegaskan bahwa pembangunan bakal meminimalisir penebangan pohon.

”Kita juga mengatur bagaimana terutama tentang aspek lingkungan agar tetap terjaga. Jadi kerjanya yang baik. Meminimalisir penebangan pohon. Tidak mengotori teluk balik papan, cara kerja yang lebih baik dan tertib,” ujar Danis.

Menurutnya keadaan hutan di kawasan pembanguann IKN Nusantara saat ini hanyalah sekitar 40 persen, namun adanya pembangunan IKN Nusantara, nantinya bakal menjadi 70 persen. Hal itu di wujudkan dari adanya pembangunan persemaian, atau pembibitan tanaman. “Jadi sama sekali salah kalau punya deforestasi, yang ada akan kita perbaiki menjadi lebih baik, tidak justru dirusak,” kata Danis.

Setiap pembangunan sedikit banyak tetap membutuhkan deforestasi. Namun menurut Danis dengan adanya persemaian pembangunan di IKN Nusantara bakal mengutamakan reboisasi, atau penanaman hutan kembali.

“Sekarang kalau kita berbicaralah KIPP, sekarang itu hutan tanaman industri sudah hutan sekunder, pohon ekaliptus, bukan hutan primer lagi, justru itu nanti yang kita perbaiki nanti menjadi tanaman yang asli dari Kalimantan,” kata Danis.

Seperti diketahui setidaknya pada tahap awal Pemerintahan bakal membangun dana APBN untuk membangun beberapa Infrastruktur dasar, setelah dilakukan land development atau pemetakan tanah, maka akan dibangun jalan sebagai konektivitas, dan lainnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi dan Jalan Indonesia Menuju Negara Industri Maju

*) Oleh : Viola AnastasiaIndonesia tengah berada pada momentum penting dalam menentukan arahpembangunan ekonominya di masa depan. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenalsebagai negara pengekspor bahan mentah seperti batu bara, nikel, kelapa sawit, hingga hasil tambang lainnya. Pola ekonomi semacam ini memang mampu menghasilkan devisa, tetapi nilai tambah yang diperoleh negara masih relatif terbatas. Ketika bahan mentah dijual langsung ke luar negeri tanpa diolah, keuntungan terbesarjustru dinikmati oleh negara pengimpor yang mengubah bahan tersebut menjadiproduk jadi bernilai tinggi. Karena itu, kebijakan hilirisasi hadir sebagai strategi besaruntuk mengubah struktur ekonomi Indonesia agar tidak lagi bergantung pada eksporbahan mentah semata.Hilirisasi pada dasarnya merupakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam konteks industri nikel misalnya, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bijih mentah, tetapi mulai membangun smelter dan industri turunan seperti bahan baku bateraikendaraan listrik....
- Advertisement -

Baca berita yang ini