Berikan Informasi yang Keliru, Kasubbag Humas Bekasi Harus Dicopot!

Baca Juga

MATA INDONESIA, BEKASI – Pemberitaan detik.com soal kunjungan Presiden Jokowi ke Bekasi pada Selasa, 26 Mei 2020 menjadi buah bibir. Dalam dua berita yang dibuat pada jam yang berbeda, detik.com menjelaskan bahwa tujuan Jokowi ke Bekasi dalam rangka untuk membuka mal-mal, padahal tidak demikian. Presiden ke sana untuk mengecek persiapan new normal.

Pada berita pertama yang dipublikasikan pukul 09.10 WIB, detik.com mewawancarai Kasubbag Publikasi Eksternal Humas Setda Kota Bekasi, Indah Indri Hadsari. Darinya diperoleh informasi bahwa Jokowi akan mengunjungi Mal Summarecon Bekasi sekitar pukul 13.00 WIB dalam rangka opening roda perekonomian dan pembukaan mal-mal.

Padahal, kenyataannya tidak demikian, Jokowi sebenarnya berencana mengecek persiapan new normal di Bekasi. Klarifikasi ini dibuat pada berita kedua yang tayang pada pukul 10:42 WIB.

Sebagai dukungan data pendapat, berita kedua ini memuat kutipan langsung Kabag Humas Pemkot Bekasi Sayekti Rubiah, “Meninjau Kota Bekasi dalam rangka persiapan penerapan prosedur new normal setelah PSBB, di sarana publik.”

Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing pun ikut menanggapi hal ini. Ia mengatakan, dari pemberitaan ini sudah terlihat jelas bahwa fakta pendapat pada berita pertama sangat tidak produktif bahkan berpotensi merugikan posisi presiden yang telah berjuang sungguh-sungguh menegakan segala peraturan terkait penerapan PSBB.

Fakta pendapat tersebut juga berpotensi menggerus kredibilitas pemerintah pusat di mata publik dalam upaya penangan Covid-19 di Indonesia.

“Sangat memprihatinkan perilaku komunikasi pejabat humas seperti itu. Sebaiknya, lebih cepat lebih baik, yang bersangkutan segera direposisi dari jabatan humas,” ujarnya kepada Mata Indonesia, Selasa malam.

Sampai saat release ini ditulis, fakta pendapat pada berita pertama masih bisa diakses khalayak ramai. Emrus pun menilai, berita tersebut bisa menimbulkan persepsi liar di tengah masyarakat. Lebih parah lagi, bila khalayak tidak membaca berita kedua, maka mereka mengambil kesimpulan mempercayai penuh isi berita pertama.

“Tentu ini tidak baik karena kenyataannya tidak demikian. Bahkan khalayak bisa menjadi bingung atas dua berita yang berbeda dari sumber institusi humas yang sama,” katanya.

Emrus pun menyoroti kompetensi pola komunikasi pejabat Humas Kota Bekasi. Ia mengatakan, pejabat tersebut tidak memiliki skill dan kompetensi sebagai seorang humas. Padahal, pejabat humas harus menguasai konsep, teori, filsafat, etika komunikasi dan profesional di bidang komunikasi.

Ia pun menduga, Kasubbag Publikasi Eksternal Humas Setda Kota Bekasi bisa jadi tidak berlatarbelakang komunikolog. Lebih parah lagi jika tidak memiliki kompetensi dan keterampilan profesional komunikasi yang memadai.

Emrus pun menyarankan agar Presiden, Menteri hingga semua kepala daerah agar melakukan reposisi besar-besaran kepada semua pejabat komunikasi pemerintah.

“Berikan tanggung jawab itu kepada para komunikolog agar pengelolaan komunikasi pemerintah dapat berjalan dengan baik, sehingga kebijakan dan program pemerintah dapat terkomunikasikan dengan efektif pula kepada masyarakat,” ujarnya.

Hemat Emrus, Komunikasi memang telah menjadi ilmu pengetahuan sejak dulu dan menjadi sebuh profesi profesional. Atau dikenal dalam konsep ethos, pathos dan logos dari Aritoteles. Maka patut diperhatikan agar hoaks dan ujaran kebencian yang merugikan semua pihak, termasuk pemerintah dapat ditiadakan atau diminimalisasikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini