Bantu Perangi Terorisme dan Diskriminasi, Denmark Berikan Dana Rp11 Miliar untuk Indonesia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA –  Dalam kunjungan kerja ke Indonesia, Menteri Luar Negeri Denmark, Jeppe Sebastian Kofod bertemu dengan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi dan membahas berbagai isu hubungan kedua negara.

Sebagaimana diketahui, Denmark dan Indonesia telah menjalin hubungan bilateral sejak 2015. Dan pertemuan kali ini bertujuan untuk mempererat hubungan dan kerja sama kedua negara, termasuk dalam hal pemberantasan terorisme dan diskriminasi.

“Kami menyatakan komitmen Denmark dalam membantu Indonesia dalam bidang ini (terorisme dan diskriminasi). Komitmen ini kami buktikan dengan pemberian dana bantuan sejumlah 763 ribu USD (atau sekitar 11 miliar Rupiah) untuk JICILAB yang merupakan bagian dari The Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC),” tutur Jeppe Sebastian Kofod.

“Kami juga membahas bagaimana memberantas diskriminasi berbasis kekerasan dan kami akan melanjutkan dukungan finansial kepada JICILAB.” sambungnya, dalam keterangan persnya, Senin, 22 November 2021.

Dana yang diberikan Denmark untuk Indonesia merupakan aksi nyata negara Skandinavia itu dalam melaksanakan komitmen kerja sama antar kedua negara dalam memerangi aksi terorisme dan diskriminasi.

Lebih lanjut, komitmen kedua negara terkait memerangi aksi terorisme dan diskriminasi ditandai dengan penandatangan Peace and Establishment Engagement Document oleh kedua menteri luar negeri.

Penandatangan dokumen ini sekaligus upaya Denmark dan Indonesia menyampaikan betapa pentingnya membangun hak asasi manusia dengan kondisi masyarakat yang terbuka dan memiliki tingkat toleransi yang tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Arah Baru Ekonomi Nasional Menguat Usai PidatoPresiden di DPR

Oleh: Dalia Kinanti )*Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal(KEM-PPKF) RAPBN 2027 menjadi penanda penting arah barupembangunan ekonomi nasional. Kehadiran langsung Presiden untuk memaparkan kebijakan ekonomi dan fiskal memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menjawab tantanganglobal sekaligus memperkuat optimisme terhadap masa depan ekonomiIndonesia.Pemerintah Indonesia memandang situasi ekonomi global yang dipenuhiketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan tekanan terhadapnilai tukar sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan kebijakan yang terukur. Karena itu, Presiden Prabowo memilih menyampaikan langsungarah kebijakan ekonomi nasional agar publik memperoleh kepastianmengenai strategi pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.Presiden Prabowo Subianto menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomiIndonesia selama tujuh tahun terakhir memang menunjukkanperkembangan positif. Namun, Presiden juga mengingatkan masih adanya persoalanmeningkatnya jumlah masyarakat miskin dan rentan miskin sertamenurunnya kelas menengah dalam periode yang sama. Kondisi tersebutdinilai menjadi tanda bahwa arah pembangunan ekonomi perlu diperbaikiagar hasil pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.Pemerintah menilai pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengejarpertumbuhan angka makro. Pemerintah ingin memastikan pertumbuhanekonomi mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat dayabeli masyarakat, dan memperluas kesempatan ekonomi bagi seluruhlapisan masyarakat.Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti rendahnya rasio penerimaannegara terhadap produk domestik bruto dibandingkan sejumlah negara berkembang lain seperti India, Filipina, dan Meksiko. Pemerintahmemandang kondisi tersebut perlu dibenahi karena berdampak terhadapkemampuan negara dalam membiayai pembangunan nasional dan memperluas program kesejahteraan masyarakat.Pemerintah Indonesia menegaskan pembenahan tata kelola ekonomiharus dilakukan secara menyeluruh. Presiden Prabowo mengungkapadanya praktik oknum pelaku usaha yang tidak melaporkan keuntungansecara faktual dan memindahkan perusahaan ke luar negeri demi memperoleh keuntungan lebih besar. Pemerintah menilai praktik tersebutmenghambat optimalisasi penerimaan negara dan mengurangi manfaatekonomi bagi rakyat.Presiden Prabowo Subianto juga menyoroti posisi Indonesia sebagaiprodusen utama sejumlah komoditas dunia yang belum sepenuhnyamemiliki kendali terhadap penentuan harga ekspor. Pemerintah menilaikondisi itu menjadi alasan penting untuk memperkuat hilirisasi industri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan memperkuatkemandirian ekonomi nasional.Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomitetap berpedoman pada Pasal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini