AS-Cina Siap Perang, Indonesia Jadi Penengah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Amerika Serikat dan Cina kembali terlibat dalam manuver militer di Laut Cina Selatan yakni di sekitar 3,5 juta kilometer persegi. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan militer di kedua negara ketika upaya kolektif global sangat penting untuk memerangi COVID-19.

Pemerintah Indonesia pun menyatakan keprihatinan atas situasi tersebut. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut Indonesia menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan.

“Termasuk untuk memastikan kebebasan navigasi dan penerbangan, dan mendesak semua pihak untuk menghormati hukum internasional khususnya Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers secara daring dari Jakarta, Rabu 6 Mei 2020.

Diketahui, dalam insiden terbaru armada angkatan laut Cina mengorganisasi latihan misi pengawasan melalui rantai Kepulauan Spratly yang disengketakan.

Baca Juga: Kilas Balik Konflik Indonesia dan Cina di Laut Cina Selatan, Sejak Kapan?

“Misi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelatihan di laut jauh untuk kapal tempur dan perlindungan terhadap pembajakan untuk kapal dagang China,” kata laporan harian berbahasa Inggris South China Morning Post yang berbasis di Hong Kong.

Pekan lalu, kapal perusak peluru kendali AS USS Barry juga melakukan operasi di dekat pulau-pulau yang disengketakan antara Cina. Yakni Kepulauan Xisha, dan Vietnam yang menyebut mereka sebagai Kepulauan Hoang Sa.

Sebelumnya pada awal April, sebuah kapal penangkap ikan Vietnam tenggelam di perairan yang disengketakan di Kepulauan Paracel. Kapal tersebut ditabrak kapal penjaga pantai Cina.

Kemudian, Cina juga mengerahkan Haiyang Dizhi 8, kapal survei geologisnya di dekat zona ekonomi eksklusif Vietnam. Pada 18 April, Cina menyatakan bahwa mereka telah memperluas dan menetapkan kendali administratif atas Pulau Paracel dan Kepulauan Spratly yang disengketakan.

Merespons situasi ini, Indonesia menyeru semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat mencederai rasa saling percaya. Mengingat negosiasi Kode Perilaku (Code of Conduct/CoC) Laut Cina Selatan sedang ditunda karena wabah COVID-19.

Diprakarsai oleh ASEAN dan Cina, CoC yang proses negosiasinya telah memasuki putaran kedua pada Oktober tahun lalu, diharapkan dapat membantu mengatasi konflik dan menjadi pedoman tata perilaku di Laut Cina Selatan.

“Indonesia percaya bahwa situasi kondusif di Laut Cina Selatan dapat mendukung proses negosiasi CoC. Karena itu, kami tetap berkomitmen untuk memastikan penyelesaian CoC yang efektif, substantif, dan dapat ditindaklanjuti meskipun di tengah pandemi COVID-19 saat ini,” kata Menlu Retno.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kehadiran TNI-Polri Menjadi Pilar Utama Menjaga Papua Tetap Aman dan Damai

Oleh: Yonas Kogoya*Keamanan dan stabilitas di Papua terus menunjukkan penguatan seiring meningkatnyasinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjagaketertiban wilayah. Berbagai langkah strategis yang dilakukan TNI dan Polri menjadibagian penting dari upaya negara menghadirkan rasa aman sekaligus memastikanpembangunan di Papua berjalan secara berkelanjutan. Situasi tersebut memperlihatkankomitmen kuat negara dalam melindungi masyarakat Papua agar dapat menjalankanaktivitas sehari-hari dengan tenang, produktif, dan penuh harapan menuju masa depanyang lebih maju.Operasi gabungan TNI di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan(Kogabwilhan) III bersama Koops Habema menjadi bukti nyata keseriusan negara dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. Keberhasilan aparat dalammempersempit ruang gerak kelompok separatis serta mengamankan berbagaiperlengkapan tempur menunjukkan bahwa upaya penegakan keamanan dilakukansecara profesional, terukur, dan bertanggung jawab. Langkah tersebut sekaligusmemberikan optimisme bahwa Papua semakin berada dalam kondisi yang kondusifuntuk mendukung pembangunan di berbagai sektor.Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto menegaskan bahwa seluruh operasikeamanan bertujuan memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara aman, termasuk anak-anak yang bersekolah dan masyarakat yang bekerja membangunperekonomian daerah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi utama negara adalah melindungi rakyat dan menciptakan suasana damai demi kemajuan Papua. Keamanan bukan hanya soal menjaga wilayah, tetapi juga menjaga harapanmasyarakat agar dapat menikmati pembangunan dan kesejahteraan secara merata.Keberhasilan aparat keamanan dalam menjaga wilayah strategis di Papua juga memperlihatkan semakin kuatnya koordinasi lintas sektor. Dukungan masyarakatterhadap upaya menjaga stabilitas menjadi faktor penting yang mempercepatterciptanya kondisi aman dan tertib....
- Advertisement -

Baca berita yang ini