Terlalu Lama Berkeliaran, Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangkap Veronica Koman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Veronica Koman nampaknya masih belum berhenti membikin ulah. Saat ini, ia masih berstatus DPO Polda Jawa Timur karena diduga membuat provokasi dan menyebarkan informasi bohong mengenai insiden asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur 2019 silam.

Kini nama Veronica kembali disebut-sebut pasca Satgas Nemangkawi menangkap Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Merauke berinisial EKM (38). Ia ditangkap karena menyebarkan hoaks, provokatif, kebencian atau permusuhan dengan SARA lewat akun Facebook bernama Manuel Metemko.

Berdasarkan hasil interogasi, ternyata EKM kerap berkomunikasi dengan Veronica. Percakapan via pesan singkat antara EKM dan Veronica Koman seputar kejadian-kejadian di Merauke. informasi tersebut nantinya bakal dikaitkan dengan keberadaan aparat keamanan oleh Veronica. Kemudian akan dikemas menjadi isu miring atau bernada negatif di media sosial dan media asing.

Hal tersebut pun mendapat tanggapan dari Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta. Ia mengatakan, hal ini perlu diselidiki lebih dalam oleh BIN dan Polri.

“Jika ditemukan bukti-bukti keterlibatan Veronica KOman dalam provokasi atau penyebaran hoaks, maka harus ditindak tegas, jangan biarkan ada aktor yang bersembunyi di luar negeri tetapi membuat keruh situasi dalam negeri,” ujarnya kepada Mata Indonesia, Senin 14 Juni 2021.

Stanislaus juga berharap aparat keamanan juga ikut mengantisipasi penyebaran hoaks dan narasi negatif di tanah Papua.

“Harus dilawan, jangan sampai dibiarkan karena akan dianggap sebagai kebenaran,” katanya.

Ia meminta agar kontra narasi hoaks harus dilakukan lebih masif. Selain itu, pemerintah harus tetap fokus untuk melanjutkan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.

“Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat sehingga kepercayaan dari masyarakat terhadap negara meningkat. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah dihasut dan diprovokasi,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini