AMN Manado Upaya BIN Tanamkan Nasionalisme Generasi Muda

Baca Juga

Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI) terus berupaya untuk menanamkan semangat dan rasa nasionalisme kepada para generasi muda penerus bangsa melalui realisasi Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Manado.

Upaya untuk menanamkan sikap nasionalisme tersebut memang menjadi sangat penting bahkan sejak dini kepada para pemuda sebagai penerus generasi bangsa karena dengan memiliki sikap itu, maka para generasi muda jelas telah berkontribusi positif untuk terus menjaga bangsa ini dari adanya beragam kemungkinan atau potensi ancaman dari pihak manapun.

Menyadari betapa pentingnya penanaman nasionalisme, Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI) kemudian melakukan banyak langkah dan strategi pendekatan kepada para generasi muda bangsa, termasuk salah satunya adalah melalui Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) di Manado.

Nasionalisme sendiri merupakan satu kata yang memiliki makna sangat luar biasa, utamanya bagi bangsa Indonesia. Karena nilai tersebut dapat juga diartikan sebagai suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi setiap pribadi memang harus terus disertakan kepada Negara kebangsaan.

Dengan kata lain, nasionalisme juga bisa dimaknai sebagai sebuah sikap mental dan tingkah laku dari individu maupun masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas sangat tinggi serta pengabdian luar biasa terhadap bangsa dan negara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sikap demikian memang sangat diperlukan, utamanya bagi keberlangsungan suatu negara dan bangsa, karena di sisi lain dengan adanya penerapan sikap itu maka dapat memunculkan rasa persatuan dan kesatuan pada masyarakat.

Sedangkan begitu pentingnya penanaman sikap nasionalisme, namun pada jaman seperti sekarang ini nyatanya memiliki beberapa tantangan yang cukup serius. Terlebih pada era kemajuan teknologi komunikasi dan indormasi serta era globalisasi.

Rasa nasionalisme bisa jadi mulai terus berkurang, utamanya di kalangan para pelajar dan pemuda. Terlebih lantaran para generasi muda tersebut mulai semakin terpapar oleh budaya dan teknologi dari luar yang banyak menghiasi kebiasaan dan keseharian mereka.

Misalnya kebiasaan tersebut ternyata sesuai dengan kebudayaan bangsa tentu tidak akan menjadi permasalahan, namun justru masalahnya adalah terletak ketika misal kebiasaan yang dilakukan oleh para pemuda yang mereka dapatkan dari media sosial atau dunia digital tersebut ternyata sangat bertentangan dengan kebudayaan bangsa sehingga jelas akan memunculkan beragam masalah.

Masalah tersebut jika terus dibiarkan berlarut juga tentu akan memiliki dampak atau pengaruh hingga pada tingkat nasionalisme yang dimiliki oleh para generasi muda terhadap bangsanya sendiri.

Sedangkan para generasi muda di Indonesia merupakan generasi penerus bangsa yang akan menerima estafet dan kelak di kemudian hari memegang kendali penuh akan bagaimana nasib masa depan bangsa ini mau dibawa ke mana.

Bangsa Indonesia akan mampu terus menjadi sebuah negara yang maju jika para pemudanya memiliki sikap nasionalisme yang tinggi. Sehingga sangat diperlukan adanya penanaman sikap serta nilai cinta kepada Tanah Air dengan begitu kuat kepada para pemuda tersebut.

Salah satu upaya untuk mendidik mereka supaya memiliki sikap nasionalisme kuat adalah dengan mengikutkan dan mendaftarkan para generasi muda, khususnya dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi pada Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Manado yang diinisiasi oleh Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI).

AMN Manado sendiri merupakan sebuah wadah dan fasilitas yang memungkinkan seluruh mahasiswa serta mahasiswi bahkan dari berbagai macam daerah di seluruh pelosok negeri bisa hidup rukun berdampingan dalam satu atap yang sama.

Pembangunan Asrama Mahasiswa Nusantara itu merupakan sebuah program bersama berskala nasional yang diinisiasi oleh BIN RI dengan melibatkan beberapa kementerian, lembaga hingga pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) daerah terkait.

Adanya Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Manado jelas merupakan upaya nyata dari Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI) untuk semakin meningkatkan nasionalisme sekaligus terus memperkuat rasa toleransi antar suku, antar agama dan antar ras.

Rasa toleransi dan nasionalisme di kalangan generasi muda memang merupakan sesuatu yang harus ditanamkan bahkan sejak dini dari lingkungan terkecil mereka, seperti pada keluarga dan juga dunia pendidikan yang bersinggungan dengan para generasi penerus itu dalam keseharian mereka.

Tidak hanya itu, namun nilai-nilai Pancasila dan kesadaran mengimplementasikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika juga harus terus diimplementasikan, khususnya pada lingkungan kampus bahkan pada kelompok mahasiswa.

Mengenai bagaimana sarana dan prasarana dalam AMN sendiri, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengaku bahwa dirinya sangat puas dengan pembangunan asrama tersebut yang menurutnya memiliki kualitas bangunan dan lansekap sangat baik.

Sementara itu, Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara (Sekprov Sulut) Steve Kepel menjelaskan bahwa dengan hadirnya Asrama Mahasiswa Nusantara di Manado dapat menjadi pusat kegiatan akademis dan sosial dengan fasilitas modern untuk mendukung pengembangan potensi dari seluruh mahasiswa.

Pengembangan potensi para pemuda dari kalangan mahasiswa tersebut juga tidak lupa terus disertai dengan penanaman rasa nasionalisme yang tinggi kepada para generasi muda oleh BIN RI melalui realisasi program AMN Manado.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini