Minews.id, Kota Kupang – Sebuah peristiwa menyayat hati yang terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, telah mengguncang publik nasional dan menjadi perhatian serius bagi banyak pihak. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Bastian dilaporkan memilih untuk mengakhiri hidupnya, sebuah tindakan yang dipandang sebagai simbol keputusasaan di tengah himpitan hidup yang ekstrem.
Kemiskinan Ekstrem Sebagai Pemicu Utama
Dalam pembahasan di kanal YouTube Teman Cerita, terungkap bahwa motif di balik tindakan tragis ini diduga kuat berkaitan dengan kondisi kemiskinan ekstrem yang dialami keluarganya. Bastian seolah merasa bahwa dengan “memilih” jalan ini, ia dapat membantu menyelamatkan ibunya dari beban hidup yang terlalu berat. Faktor dominan yang mempengaruhi psikologis korban adalah kurangnya perhatian serta empati sosial di lingkungan sekitar.
Tamparan Keras Bagi Institusi Negara dan Agama
Pegiat sosial NTT, Ianto Lily, menyebut peristiwa ini sebagai “luka mendalam” dan tamparan keras bagi pemerintah, gereja, hingga pranata budaya. Ia menegaskan bahwa kematian seorang anak karena kemiskinan mencerminkan kegagalan kolektif dalam melindungi warga negara yang paling rentan. Tindakan Bastian dianggap sebagai pesan sadar kepada dunia bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara bangsa ini mengurus rakyatnya.
Kritik Terhadap Kebijakan dan Birokrasi
Diskusi ini juga menyoroti kesenjangan antara program besar pemerintah dengan realitas di akar rumput. Meskipun ada program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), fakta di lapangan menunjukkan masih banyak anak sekolah di pelosok NTT yang harus berjalan kaki belasan kilometer dalam kondisi lapar dan tanpa fasilitas sekolah yang memadai.
Ianto Lily menekankan bahwa pemerintah harus berhenti bersembunyi di balik angka statistik dan birokrasi yang kaku. Ia menuntut agar nilai kemanusiaan diletakkan di atas segala aturan administratif demi menyelamatkan nyawa masyarakat.
Refleksi Sosial dan Nilai Budaya
Peristiwa di Ngada ini menjadi alarm peringatan bagi masyarakat Indonesia. Hilangnya nilai gotong-royong dan kepekaan terhadap tetangga yang kekurangan dianggap sebagai faktor yang memperburuk situasi. Pemerintah daerah maupun pusat didorong untuk mengevaluasi total sistem pelayanan mereka, dengan mengedepankan prinsip bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan sekadar penguasa.
Tragedi ini diharapkan tidak hanya berakhir pada ungkapan duka cita, melainkan menjadi momentum untuk perubahan nyata dalam pengentasan kemiskinan dan perlindungan hak-hak dasar anak di Nusa Tenggara Timur.
Tonton video lengkapnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=D5rxVMNDA68
