Aksi Jual Bersih Dongkrak Penguatan IHSG di Akhir Pekan

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih yakni sebesar Rp 313.45 miliar pada perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jumat 15 Maret 2019. Mereka kebanyakan menjual saham TLKM, BBCA dan UNTR yang menjadi top net sell value.

Aksi jual bersih itu membuat IHSG ditutup menguat 35.69 poin ke level 6.413.27 pada penutupan kemarin. Yakni dengan Sektor Keuangan (+0.91 persen) dan Industri Dasar (+2.03 persen) memimpin penguatan.

Seperti saham ASII (+2.46 persen) yang menguat merefleksi naiknya data penjualan sepeda motor bulan februari 2019 melebihi ekspektasi di level 21 persen, dari 17.9 persen di periode sebelumnya.

Sementara nilai tukar Rupiah justru melemah 0.09 persen ke level Rp 14.278 per dolar AS. Sementara peringkat hutang Indonesia kembali ditegaskan tetap berada di rating BBB oleh Fitch.

Yakni dengan perkiraan rasio hutang pemerintah yang masih akan tetap stabil secara luas dalam beberapa tahun mendatang. Gross Domestic Product (GDP) Indonesia pun diperkirakan di level 5 persen dengan defisit akun berjalan kurang dari 3 persen terhadap GDP. Fitch memiliki pandangan ke arah perubahan besar dalam kebijakan ekonomi pasca pemilu presiden mendatang.

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini