AFPI Akan Terus Memperkenalkan Fintech Secara Luas kepada Masyarakat Umum

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Untuk pertama kalinya Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar acara AFPI C – Summit 2019 Fintech P2P Lending. Acara ini digelar di Rumah Perubahan, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat.

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi dalam acara sambutan menyatakan bahwa meski Fintech masih tergolong belia di tanah air, namun memiliki prospek yang cukup cerah di masa mendatang. Ia bilang, dengan adanya acara ini bisa dikatakan sebagai suatu milestone atau tahapan yang sangat penting dan berharga bagi AFPI yang berumur belum sampai satu tahun.

“Berdasarkan akta pendirian, asosiasi kami didirikan pada 5 Oktober 2018 lalu. Dan secara resmi ditunjuk oleh OJK sebagai asosiasi industri Fintech lending di Indonesia pada bulan Januari 2019,” ujar dia, Jumat 14 Juni 2019.

Adrian melanjutkan bahwa saat ini jumlah anggota Fintech yang terdaftar di OJK sebanyak 113 anggota. Dan dalam waktu yang relatif singkat telah ada beberapa hal yang sudah dilaksanakan oleh AFPI di antaranya, terkait code of contact atau kode prilaku yang tentu merupakan tahapan dan menjadi penyempurnaan dari sebelumnya dalam asosiasi ini.

“Selain itu dengan adanya pembentukan komite etik sebagai perangkat bagaimana market contact itu dilaksanakan menjadi pekerjaan rumah yang beberapa kali kita sampaikan ke OJK. Jadi boleh dibilang ini menjadi rencana kerja jangka pendek dari AFPI,” ujar Adrian.

Ia juga berkata sejauh ini AFPI telah melakukan beberapa kali pelatihan terkait Fintech. “ Dua kali trainingnya terkait pengenalan regulasi, dua kali pelatihan tentang struktur pemegang saham dari penyelenggara Fintech dan satu kali training soal collection (penagihan). Jadi itu adalah program sertifikasi yang sudah kita lakukan. Dan ini akan terus kita tingkatkan dari sisi frekuensi dan kualitasnya ke depan,” kata dia.

Adrian juga mengungkapkan bahwa dalam enam bulan terakhir ini, berita-berita negatif soal Fintech mulai bisa diredam. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sentiment negatif terhadap industri Fintech tanah air.

“Ini tentu menjadi PR bagi kami. Sehingga kami beberapa kali mengadakan media visit untuk menjelaskan kepada stakeholders dan publik. Jadi kita berharap kelak industri ini mampu berkembang lebih baik, lebih sehat dan lebih besar,” ujar Adrian.

Sementara itu, Ketua Harian AFPI Kuseryansyah pada kesempatan yang terpisah turut menambahkan bahwa pihaknya saat ini pihaknya terus berupaya untuk memberikan edukasi dan literasi tentang Fintech kepada publik.

“Misalkan kami akan menggelar Fintech days di Jayapura pada bulan Agustus mendatang. Kita berharap dari event ini mampu melahirkan investor baru dari putra daerah di sana. Selain itu, kami juga bakal melakukan kunjungan ke perbatasan Kalimantan untuk memperkenalkan soal Fintech,” kata dia.


Kus juga menyinggung bahwa karena sudah memasuki era transformasi digital, maka perlindungan atas data pribadi perlu ditingkatkan. “Ini tentu menjadi prioritas utama AFPI agar keamanan dan kenyamanan konsumen terjaga. Jangan sampai sudah masuk begitu dalam, tapi perlindungannya kurang,” ujar Kus. (Krisantus de Rosari Binsasi)

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini