Mata Indonesia, Yogyakarta – Ketahanan pangan menjadi isu yang masif didengungkan oleh pemerintah. Terlebih, saat ini Indonesia bersiap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Di sisi lain, dalam Rencana Strategis (Renstra) Badan Ketahanan Pangan (BKP) yang kini diubah menjadi Badan Pangan Nasional (Bapanas) Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) Tahun 2020-2024 menyebut bahwa pembangunan pangan di Indonesia masih menghadapi masalah. Utamanya, terkait dengan penyediaan (supply) pangan.
Misalnya dari sisi produksi, food loss and waste (makanan yang terbuang dan hilang) akibat stok pangan yang tidak tahan lama serta inovasi dan diseminasi teknologi untuk peningkatan produktivitas pertanian yang belum dilakukan secara masif.
Oleh karenanya, diperlukan alat pendukung untuk memperpanjang daya simpan pangan dan menjaga kualitasnya tetap baik, melalui sistem pendingin (refrigerasi) dan tata udara.
Hal itu mendorong Asosiasi Ahli Refrigerasi dan Tata Udara (A2RTU) Indonesia untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat Indonesia secara luas melalui transfer of knowledge dan sosialisasi pengaplikasian sistem refrigerasi dan tata udara.
Sekaligus, mendukung program pemerintah mewujudkan Net Zero Emission. Salah satunya, diwujudkan dengan gelaran event A2RTU Expo 2024 yang diselenggarakan di Gedung Smart Green Learning Center (SGLC) Fakultas Teknik (FT) UGM, pada 2 – 4 Mei 2024.
Ketua Panitia A2RTU Expo 2024, Fathurrahman Yudhi Nugraha mengatakan, kegiatan berupa pameran, seminar dan workshop di bidang refrigerasi dan tata udara ini baru pertama kalinya digelar di Yogyakarta, serta menjadi bagian dari rangkaian acara Lustrum 65 Teknik Mesin UGM.
“Kami melihat partner lokal di Yogyakarta sangat antusias karena mereka merasakan bahwa pengaplikasian sistem refrigerasi dan tata udara memang dibutuhkan,” jelas Fathur di SGLC FT UGM, Kamis (2 Mei 2024).
Kegiatan yang terselenggara berkat kolaborasi A2RTU dengan PT Anindya Mitra Internasional (AMI), serta Departemen Teknis Mesin dan Industri (DTMI) FT UGM ini, mengusung tema “Peran Refrigerasi dan Tata Udara dalam peningkatan Ketahanan Pangan Nasional serta Net Zero Emission pada Bangunan Gedung menuju Indonesia Emas”.
Kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah institusi keteknikan dan sejumlah asosiasi. Diantaranya: Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika FT UGM; Ikatan Engineer Indonesia (IKEI); Indonesia Building Engineer Association (BEA); Persatuan Teknisi Refrigerasi dan Tata Udara (PTRTU); Asosiasi Teknisi Refrigerasi dan Tata Udara (ASISI); Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO); serta Ikatan Alumni Teknik Refrigerasi dan Tata Udara (IKARA).
Ketua Umum A2RTU, Windy Hermawan Mitrakusuma menambahkan, Yogyakarta dipilih sebagai kota penyelenggaraan A2RTU Expo 2024 karena dalam kurun waktu tahun 2020-2023, sektor industri pengolahan makanan dan minuman; transportasi dan pergudangan; akomodasi dan makan minum; pertanian; kehutanan dan perikanan, serta industri konstruksi dan real estate menjadi penyumbang lebih dari 50 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDRB) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Itu ditandai dengan trend peningkatan di industri transportasi dan pergudangan, serta industri akomodasi dan makan minum.
“Pertumbuhan semua sektor industri tersebut dipenuhi, salah satunya berkat penerapan teknologi refrigerasi dan tata udara yang tepat guna, sehingga mereka dapat beroperasi dengan lebih efisien dan agility yang lebih baik,” paparnya.
Secara inherent, DIY juga memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain, yakni keberadaan DTMI FT UGM yang melaksanakan misi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang teknik mesin dan industri. UGM secara kolaboratif juga mampu menjalankan pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan unggul dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, keberadaan PT AMI sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan pembangunan ekonomi di DIY.
Sementara A2RTU sebagai organisasi yang mewadahi para akademisi, praktisi, dan pegiat di bidang refrigerasi dan tata udara memiliki pengetahuan dan jaringan yang memadai ke dunia industri sehingga bisa menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor usaha dan industri yang membutuhkan peranan teknologi tersebut di DIY.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini terdiri atas pameran yang diikuti oleh para pelaku industri di bidang refrigerasi dan tata udara. Antara lain: PT Pura Agro Mandiri; XMK; Daikin; Aicool; Gree; Clivet; PT ITU Aircon Co; Starr Panel; Copeland; Dwi Mitra Teknindo; LG Air Solution; Climaveneta; Bitzer; Guntner; Rifeng; Carrier; United Refrigeration; Centra HVACR; dan PT Catur Mitra Teknologi.
Sedangkan seminar dan workshop digelar sebanyak delapan kali, dengan tema yang berbeda-beda. Yakni: 1) Controlled Atmospeheric Cold Storage Teknologi Penyimpanan Produk Pertanian Terbaik; 2) Penjelasan Sistem Refrigeration System & Heat Exchanger; 3) Aplikasi AHU pada Industri/AC Transportasi; 4) Aplikasi Dehumidifier pada proses industri pengolahan/farmasi; 5) Perhitungan Cooling Load AC pada Bangunan dan Pemilihan Equipment; 6) Teknologi CDU & Pemanfaatan Panas Sisa untuk Kitchen Water Heater; 7) Operation and Maintenance AC Gedung; dan 8) Cold Chain Logistic untuk Ketahanan Pangan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa bertemu langsung dan berdiskusi tentang solusi terkini seputar teknologi refrigerasi dan tata udara.
Saat membuka A2RTU Expo 2024, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Beny Suharsono mengapresiasi kegiatan yang digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.
“Ini mencerminkan konsep sinergisitas antara sivitas akademik dan entitas usaha,” ucap Beny.
Pihaknya juga berpandangan bahwa dalam konteks ketahanan pangan nasional dan transisi industri infrastruktur yang dituntut zero emission, signifikansi teknologi refrigerasi dan tata udara menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.
Fungsi refrigerasi sebagai pengawetan telah menunjukkan kemampuannya menunda proses pembusukan bahan pangan, serta memfasilitasi petani dalam menjaga kualitas hasil panenannya dalam jangka panjang sehingga mengurangi resiko kerugian saat panen.
Sedangkan Dekan FT UGM, Prof. Selo menyampaikan bahwa kolaborasi antara akademisi dan industri sangat diperlukan untuk memajukan bangsa ini.
“Kita beruntung bisa bersama para ahli refrigerasi dan tata udara untuk memikirkan bagaimana pendingin udara buatan bisa berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan pangan,” anggap Selo.
