Langgar Gencatan Senjata, Ukraina Gunakan Senjata Berat Gempur Kota Lugansk

Baca Juga

MATA INDONESIA, LUGANSKAngkatan bersenjata Ukraina menyerang Republik Lugansk (LPR) yang memproklamirkan diri. Berdasarkan laporan, militer Ukraina menggunakan senjata artileri kaliber besar hingga 31 kali dalam 24 jam terakhir.

“Formasi bersenjata Ukraina sangat melanggar gencatan senjata, menggunakan, khususnya, senjata berat,” kata misi LPR dalam saluran Telegram-nya, melansir TASS, Sabtu, 19 Februari 2022.

Misi LPR juga turut melaporkan bahwa secara khusus, enam peluru ditembakkan dari mortir 120mm ke desa Zhelobok pada pukul 12:00 waktu setempat (bertepatan dengan waktu Moskow).

Kemudian pada jam 12:40, militer Ukraina membombardir desa Rayevka dari senjata artileri 122mm, menembakkan tujuh peluru. Pukul 13:30 Angkatan bersenjata Ukraina meluncurkan 10 peluru artileri 122mm terhadap komunitas Vesyolaya Gorka.

“Informasi tentang fasilitas yang terluka dan rusak sedang ditentukan,” sambungnya.

Situasi di garis pertunangan di timur Ukraina meningkat pada Kamis (17/2) pagi waktu setempat. Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk (DPR dan LPR) melaporkan pemboman paling intensif oleh militer Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, hingga saat ini pihak berwenang belum melaporkan data terkait korban. Hanya saja, seorang perempuan diketahui terluka dan pengeboman merusak beberapa fasilitas infrastruktur sipil.

Misi DPR dan LPR ke Pusat Pengendalian dan Koordinasi Gencatan Senjata Gabungan sebelumnya melaporkan bahwa militer Ukraina telah meluncurkan sekitar 400 amunisi terhadap wilayah mereka sejak Jumat pagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tanpa Kematian Sapi, Kasus PMK di Kulon Progo Berangsur Turun: DPP Beri Obat, Vitamin, dan Siapkan Vaksin 9.200 Dosis

Mata Indonesia, Kulon Progo - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo mencatat penurunan jumlah kasus aktif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi ternak. Meski sempat melonjak pada awal 2026, kondisi terbaru menunjukkan tren membaik.
- Advertisement -

Baca berita yang ini