51 Orang Positif Covid-19 di Ponpes Insan Cendekia Madani BSD

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-51 warga Pondok Pesantren (Ponpes) Insan Cendekia Madani (ICM) BSD, Tangerang Selatan, dinyatakan positif covid-19 dan menjalani isolaso di asrama Poppes. Untuk pembelajatan dilakukan kegiatan jarak jauh (PJJ).

“Untuk yang positif itu karantina di sekolah, yang negatif kemarin dipulangkan sejak Jumat (21/1) kemarin,” ujar petugas keamanan Sekolah ICM Dahlan Setiawan di sekolah ICM, di BSD, Tangerang Selatan, Senin 24 Januari 2022.

Dengan ditutupnya sekolah selama enam hari sejak Jumat pekan lalu, dirinya memastikan kalau seluruh kegiatan belajar mengajar siswa di Ponpes itu, dilakukan secara daring.

“Kegiatan belajar mengajar berjalan offline. Siswa negatif sudah dipulangkan semua,” katanua.

Sementara saat ini, Ponpes melarang pihak luar keluar masuk area. Hal itu, guna menghindari penyebaran virus corona yang menginfeksi warga Ponpes.

“Kita larang keluar masuk, termasuk semua guru. Kecuali warga Ponpes yang memang positif Covid-19. Di luar itu, kami larang ke dalam,” katanya.

Saat ini lanjutnya, ke 51 warga ponpes itu sedang dalam pengawasan tim medis. Mereka seluruhnya menjalani isolasi mandiri di Ponpes itu.

Dia menerangkan, kalau ke 51 warga Ponpes yang positif Covid-19 itu, adalah para santri yang sebelumnya libur akhir semester 1.

“Kayaknya anak-anak doang. Kalau guru engga tahu juga. Tapi sampai empat hari setelah mikro lockdown ini mereka sebenarnya sehat-sehat saja, enggak ada yang lemas atau gimana,” katanya.

Menurut Dahlan, sebelum kembali ke Ponpes paska libur Ujian Akhir Semester (UAS) pada 17 Januari lalu, seluruh siswa dan orang tua yang mengantarkan anaknya ke Ponpes telah menjalani pemeriksaan Swab PCR, agar bisa kembali mengikuti kegiatan belajar di Ponpes.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini