2 Prajurit TNI AU Ditahan karena Bantu Rachel Vennya Kabur dari Karantina

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sepertinya kasus Rachel Vennya terus bergulir. Meski sudah divonis ringan, namun dampak dari kasus ini mulai melebar. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) telah menahan dua prajurit matra udara berinisial RF dan IG.

Penahanan ini karena keduanya terlibat perkara pelanggaran kekarantinaan kesehatan selebgram Rachel Vennya.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma Indan Gilang Buldansyah mengatakan, penahanan RF di rumah tahanan militer Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

“Sementara GF dalam waktu dekat akan menyusul menunggu surat penyerahan perkara dari Ankum-nya (atasan yang berhak menghukum),” kata Indan, Selasa 21 Desember 2021.

Penahanan kedua prajurit ini dalam rangka proses penyidikan menyusul proses peradilan  kepada Rachel Vennya yang ujung-ujungnya cuma mendapat vonis ringan. Indan juga mengatakan, penahanan prajurit langsung oleh Pomau Komando Operasi Angkatan Udara I (Koopsau I) selaku penyidik.

Ia menegaskan penahanan ini sebagai bentuk keseriusan TNI AU dalam menangani setiap permasalahan hukum prajuritnya. “Pomau sudah melakukan pemeriksaan pendalaman oknum prajurit FS dan IG yang turut terlibat dalam perkara RV. Hal ini untuk membantu pihak kepolisian dalam proses hukum RV,” kata Indan.

Terkait sanksi terhadap kedua prajurit TNI AU tersebut, Indan memastikan, permasalahannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Sebelumnya, terdakwa kasus pelanggaran karantina kesehatan Rachel Vennya mengaku membayar uang sebesar Rp 40 juta untuk kabur dari karantina.

Setibanya di Indonesia, seorang oknum bernama Ovelina yang juga menjadi terdakwa di kasus ini membantu Rachel Vennya untuk kabur dari karantina.

“Saya membayar Rp 40 juta dan uangnya sudah kembali ke saya. Waktu itu uangnya ke Ovelina,” kata Rachel dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang, Jumat 10 Desember 2021.  Dipotong Rp 10 juta, Ovelina lalu mentransfer uang sejumlah Rp 30 juta ke rekening Kania, adik anggota TNI AU yang membantu meloloskan Rachel Vennya.

Dari Bandara Soekarno-Hatta Rachel Vennya kemudian langsung menuju Wisma Atlet untuk menjalani karantina.

Namun, setibanya di sana, seorang oknum TNI menjemputnya dan kemudian mengantarnya pulang langsung ke rumah. “Dari bus saya sampai ke Wisma Atlet. Tapi saya langsung pulang. Saat itu tidak sempat mendaftar,” kata Rachel.

Dalam persidangan, Rachel Vennya menjelaskan alasannya tak ingin mengikuti proses karantina. “Sebenarnya saya pernah karantina dan nggak nyaman, gitu aja,” ujar Rachel.

Majelis hakim memvonis ringan Rachel Maryam 4 bulan tanpa tahanan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Fadil Imran menduga ada keterlibatan mafia karantina dalam proses kaburnya Rachel Vennya. Fadil memastikan akan mempidanakan siapapun yang mencari keuntungan dan menjadi mafia karantina Covid-19 di wilayah DKI Jakarta. “Kami akan mengusut tuntas, tanpa pandang bulu terhadap siapapun yang terlibat dalam mafia karantina ini,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini