2.000 Nakes di Kota Yogya Divaksin Booster Kedua

Baca Juga

MATA INDONESIA, YOGYA-Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus mengebut pendistribusian vaksin booster Covid-19. Dinkes juga sudah memulai booster kedua bagi tenaga kesehatan (nakes).

Kepala Dinkes Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani membenarkan capain booster di wilayahnya sudah lebih dari 100 persen. Pihaknya juga sudah mulai memberikan vaksin dosis kedua.

“Capaian booster di Kota Jogja sudah 106 persen. Kalau untuk vaksin booster ke-2 khusus nakes sudah mulai hari Jum’at minggu kemarin,” ujar Emma.

Emma mengatakan bahwa capaian booster kedua sudah mencapai lebih dari 2.000. Dinkes Kota Jogja pun menargetkan sasaran 12.000 nakes untuk menerima booster kedua.

“Target booster kedua kami 12 ribuan. Kami sudah melaksanakan booster ke-2 terhadap 2.000 nakes,” ucapnya.

Untuk diketahui, Pemda DIY melaksanakan vaksinasi booster kedua dengan sasaran pertama diberikan kepada 18.200 sumber daya manusia kesehatan (SDMK). Pemberian vaksinasi dosis penguat itu di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) masing-masing wilayah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Setyarini Hestu Lestari mengatakan, pemberian vaskinasi booster ini telah dilakukan pekan lalu dengan sasaran diprioritaskan bagi SDMK.
Vaksin dosis keempat dibutuhkan untuk kembali menguatkan imunitas tubuh para nakes maupun seluruh SDMK di tengah pandemi Covid-19.

“Kami yang di Dinkes pemda sudah mulai sejak Jumat. Tapi yang di kabupaten kota kemarin sudah ada yang mulai juga,” katanya.

Setyarini menjelaskan jatah vaksinasi dosis keempat diberikan sebanyak 18.200 sasaran untuk SDMK. Namun Dinkes DIY melakukan pembaharuan data. Tak semua sasaran SDMK yang menerima dosis ketiga kembali menjalani dosis booster kedua.

“Jadi kita menghitung SDMK yang saat ini masih ada. SDMK murni atau yang masih terlibat,” ujarnya.

Reporter: Abraar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini