MATA INDONESIA, JAKARTA – Direktur Eksekutif Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara, menegaskan bahwa kekuatan ISIS di timur tengah memang melemah terutama saat pimpinanya yaitu Abu Bakar Al-Baghdadi tewas. Meski demikian, hal ini bukan berarti melemahkan pergerakan Foreign Terrorist Fighters (FTFs).
“Secara kolektif memang lemah tapi secara ideologi tetap saja yang kemudian sel-selnya berkembang secara radikal tanpa ada pemimpin, tapi karena doktrinasinya ideologinya sudah tetap,” kata Robi kepada Mata Indonesia News, Jumat 9 April 2021.
Maka untuk mengantisipasinya, beberapa kerja sama antar negara dilakukan. Terutama untuk mencegah pergerakan FTFs baik dari dan menuju ke Indonesia. Namun, dalam realisasinya di lapangan masih memerlukan upaya yang lebih keras.
“Kerja sama secara kertas banyak ya ada dari ASEAN bahkan ada khususnya ada tangani persoalan ini, faktanya di lapangan sulit hadapi mereka, harus dimaksimalkan kerjasama yang sudah ditandatangani,” kata Robi.
Selain itu, Robi ternyata juga pernah mengusulkan pengembalian kombatan ISIS melalui proses seleksi dan harus mengikuti karantina dan mengenyam deradikalisasi.
“Tidak mudah bagi pemerintah menolak atau menerima pemulangan WNI eks ISIS yang sekarang ada di penampungan di salah satu wilayah Irak dan Turki. Jika pemerintah menerima mereka pulang, saya kira bisa dipertimbangkan yang hanya bertujuan mencari syariat Islam,” kata Robi.
Adapun, Dosen HI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga menegaskan bahwa terdapat dua tujuan besar dari WNI yang bergabung dengan ISIS. Pertama yaitu kebencian pada negara dan keinginan untuk menerapkan syariat Islam dan pergi ke tempat yang dinilai tepat untuk menjalankannya.
