1.800 Atlet Bakal Bertanding di ASEAN Para Games Solo

Baca Juga

MATA INDONESIA, SOLO-1.800 Atlet dari 11 negara siap unjuk kebisaan dalam ASEAN Para Games ke-11 di Solo, 30 Juli-6 Agustus 2022.

Para atlet berkebutuhan khusus tersebut akan mengikuti 14 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan.

Kesiapan panitia penyelenggara disampaikan Ketua Indonesia ASEAN Para Games Organizing Committee (INASPOC) Gibran Rakabuming Raka, di sela penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan ASEAN Para Sport Federation (APSF), di Swissbel Hotel, Jumat 1 Juli 2022.

“Kurang lebih ada sekitar 1.800 atlet yang akan datang dan bertanding nantinya. Persiapan sudah sangat matang untuk penyelenggaraan event ini. Kita tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat pada saat dan sebelum penyelenggaraan event ini,” ujar dia.

Gibran menegaskan, seluruh venue sudah dikunci dan dipersiapkan dengan sangat matang. Dia juga menyampaikan jika pada tanggal 15 Juli renovasi kecil seluruh venue akan selesai.

“Untuk transit dan transportasi para atlet yang berdatangan melalui Bandara Internasional Adi Soemarmo,” kata dia.

Penandatanganan MoU diwakili Ketua INASPOC Gibran Rakabuming Raka dan APSF diwakili President of APSF Osoth Bhavilai.

“Agenda penandatanganan ini merupakan bentuk kerjasama guna penyelenggaraan ASEAN Para Ganes. Persiapan sudah sangat matang. Beberapa venue dan penginapan sudah dipersiapkan sangat matang guna menunjang kenyamanan dan pelayanan para atlet,” jelas Gibran.

Presiden APSF Osoth Bhavilai mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Solo serta masyarakat Indonesia yang telah menerima event ini meskipun dengan periapan yang sangat singkat.

“Saya juga berterima kasih kepada masyarakat Solo yang telah membantu mempersiapkan event ini mulai dari perbaikan venue dan antusias warganya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat.Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman.Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor.Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...
- Advertisement -

Baca berita yang ini