Teka-teki Silang, Permainan Kata yang Tak Tergerus Zaman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Mungkin anak muda zaman sekarang sudah jarang yang bermain teka-teki silang (TTS). Padahal permainan kata ini sempat populer di awal tahun 2000-an.

Teka-teki silang mulai dikenal di Indonesia sejak era 1970-an di mana banyak rubrik teka-teki silang bermunculan di hampir setiap majalah dan surat kabar. Tidak hanya beredar di terbitan harian dan mingguan, teka-teki silang juga dicetak sebagai buku khusus yang bisa diperoleh dengan harga beberapa ribu rupiah saja.

Buku teka-teki silang biasanya berupa lembaran tipis dengan kertas buram yang di dalamnya berisi serangkaian kotak-kotak kosong berwarna hitam dan putih serta deretan pertanyaan. Buku ini sering kali dijual di lapak-lapak penjual koran atau ditawarkan para pedagang asongan dengan warna sampulnya yang cerah bergambar perempuan cantik.

Banyak orang yang menggemari teka-teki silang untuk mengisi waktu luang, mengasah kemampuan otak, menambah ilmu pengetahuan, bahkan tidak jarang mengejar hadiah dari teka-teki silang yang dijadikan lomba oleh surat kabar atau majalah dengan mengirimkan hasil jawabannya.

Hingga saat ini, teka-teki silang bisa disebut sebagai permainan kata yang paling populer. Sebelum dikenal dengan format mendatar dan menurun seperti sekarang, bentuk teka-teki silang masih semacam permainan utak-atik kata.

Teka-teki silang dengan format kotak-kotak yang disusun vertikal dan horizontal, tanpa arsiran hitam, pertama kali muncul di Italia. Saat itu, majalah Il Secolo Illustrato della Domenica yang didesain oleh jurnalis Giuseppe Airoldi memuat teka-teka silang bertajuk ‘Per Passare il Tempo’ yang artinya ‘Melewati Waktu’.

Hal itu berlanjut dua dekade kemudian ketika Arthur Wynne, jurnalis asal Inggris, memunculkan format teka-teki silang di majalah New York World pada 21 Desember 1913 dengan nama ‘Word-Cross Puzzle’. Teka-teki silang buatan Wynne itu kemudian yang berevolusi hingga saat ini.

Wynne akhirnya dikenal sebagai Bapak Teka-teki Silang. Berdasarkan tanggal pemuatan permainannya tersebut, akhirnya setiap 21 Desember diperingati sebagai Hari Teka-teki Silang Sedunia.

Teka-teki silang buatan Wynne bermula ketika dia diminta editor di media tempatnya bekerja untuk membuat sebuah permainan dengan tujuan untuk menghibur pembaca di akhir pekan. Wynne lalu mempelajari format permainan kuno bernama Pompeii atau yang dalam bahasa Inggris disebut Magic Square.

Format teka-teki silang versi Wynne ini berbentuk berlian dan masih tidak disertai kotak-kotak berarsir hitam yang banyak dikenal sekarang. Semua jawabannya ditulis horizontal dengan 31 pertanyaan.

Wynne lalu membuat inovasi baru untuk edisi berikutnya, yaitu berupa jawaban vertikal, dengan ruang-ruang kosong di tengah permainan.

Format tadi kemudian diadopsi oleh banyak surat kabar lainnya, seperti The Pittsburgh Press (1916) dan The Boston Globe (1917).

Teka-teki silang versi Wynne yang populer di Amerika Serikat ini kemudian merambah ke Eropa hingga benua lain. Di Eropa, teka-teki silang pertama kali muncul di Inggris dalam majalah Pearson yang terbit pada Februari 1922. Teka-teki silang yang diadopsi oleh Inggris dengan cepat mengembangkan gayanya sendiri, jauh lebih sulit daripada jenis teka-teki silang yang beredar di Amerika Serikat.

Saat ini, tidak banyak lagi surat kabar maupun majalah yang menampilkan teka-teki silang di halaman mereka. Namun, itu bukan berarti teka-teki silang tidak bisa dimainkan. Berkat kecanggihan teknologi, teka-teka silang dapat dijumpai dengan mudah di internet dan aplikasi di ponsel, seperti Crossword Puzzle dan The Big Crossword.

Reporter: Safira Ginanisa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dari Kota hingga Pelosok: Misi Kesehatan Berkualitas melalui CKG

Oleh : Ricky RinaldiPemerataan layanan kesehatan menjadi fokus penting pemerintah dalammemperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah upaya memperluasakses layanan hingga ke wilayah terpencil dan pelosok, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai langkah strategis untuk memastikan masyarakat dapatmemperoleh pemeriksaan kesehatan secara mudah, gratis, dan berkualitas. Kehadiran program ini tidak hanya memperluas jangkauan layanan kesehatan, tetapijuga mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjagakesehatan sejak dini demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidupmasyarakat. Tanpa kondisi kesehatan yang baik, produktivitas masyarakat akanmenurun dan pembangunan sumber daya manusia sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap wargamemiliki akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dan terjangkau.Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan kesehatan harusmenjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata. Pelayanan kesehatan tidakboleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerahterpencil menghadapi keterbatasan akses. Dalam kerangka tersebut, CKG menjadibagian dari upaya menghadirkan negara secara nyata dalam pelayanan kesehatanmasyarakat.Program CKG dirancang untuk memperkuat pendekatan preventif dalam sistemkesehatan nasional. Selama ini, masyarakat sering kali baru memeriksakan kondisikesehatan ketika penyakit sudah berkembang lebih serius. Melalui pemeriksaankesehatan gratis, masyarakat didorong untuk lebih dini mengenali kondisi tubuh dan melakukan langkah pencegahan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut.Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa penguatan layanankesehatan primer menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas kesehatan nasional. Pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan deteksi dini terhadapberbagai penyakit, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Pendekatan ini juga membantu mengurangi beban pembiayaan kesehatan dalamjangka panjang.Pelaksanaan CKG tidak hanya difokuskan di pusat kota, tetapi juga diarahkanmenjangkau wilayah pelosok. Pemerintah memperkuat koordinasi dengan fasilitaskesehatan daerah agar layanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Kehadiran tenaga kesehatan di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikanbahwa program berjalan efektif hingga ke tingkat komunitas.Bagi masyarakat di daerah terpencil, akses terhadap layanan kesehatan sering kali terkendala oleh jarak, keterbatasan fasilitas, dan minimnya tenaga medis....
- Advertisement -

Baca berita yang ini