Meninggalnya Napoleon, Sifilis atau Kanker Perut?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA– Kaisar dan pemimpin Prancis Napoleon Bonaparte meninggal pada 5 Mei 1821.

Ia meninggal dalam status pengasingan di Pulau Saint Helena di sebelah selatan Samudra Atlantik, jauh dari Prancis, Tanah Air yang ia cintai.

Empat tahun di pengasingan, kondisi kesehatannya menurun drastis. Ada yang tak beres dengan perut Napoleon, dari gejalanya, ia diduga sakit maag atau bahkan kanker.

Beberapa bulan sebelum hidupnya tamat, Napoleon Bonaparte dalam kondisi tak berdaya. Ia tak sanggup bangun dari tempat tidur, tubuhnya kian melemah dan payah.

Hampir enam tahun dalam kondisi pengasingan, keadaan pemimpin Prancis ini jauh dari kata layak. Hal itu membuat kesehatannya menurun drastis. Banyak yang menduga ia menderita berbagai penyakit. Termasuk menderita penyakit sipilis.

Penyakit sifilis merupakan penyakit kelamin yang menyebabkan penderitanya dipenuhi ruam dan bisul di tubuhnya. Sifilis atau disebut penyakit ‘raja singa’ disebabkan oleh bakteri bernama Treponema Pallidum.

Memasuki akhir tahun 1495, wabah sifilis sudah mencengkram wilayah Prancis. Penyakit ini disebut oleh bangsa Prancis dengan sebutan “Penyakit Napoli”. Hal itu memunculkan dugaan bahwa Napoleon meninggal karena menderita sifilis.

Namun, beberapa meyakini jika Napoleon terinfeksi, ia pasti telah mengonsumsi arsenik yang ampuh mengobati sifilis. Tercatat bahwa Napoleon memang memiliki ukuran penis yang sangat kecil, hanya mencapai 5 cm. Meski begitu, tidak ada bukti bahwa ia menderita penyakit tersebut.

Seorang dokter pernah memeriksa Napoleon saat berada dalam pengasingan. Dokter bernama Barry O’Meara itu memperingatkan pemerintahan Inggris dan Prancis bahwa kondisi kesehatan Napoleon sangat lemah karena perlakuan kasar yang diterimanya.

Dari hasil otopsi, ditemukannya lesi dalam usus Napoleon. Mengingat ada dugaan bahwa ia menderita penyakit sifilis. Lesi merupakan area jaringan yang rusak dan memunculkan gejala kemerahan pada permukaan kulit. Pada fase terakhir penyakit sifilis memungkinkan ditandai berkembangnya lesi pada kulit, organ, atau tulang.

Dalam catatan sejarah saat kematian Napoleon, dokter pribadinya Francesco Antommarchii menyatakan bahwa penyebab kematianya yakni kanker perut. Deskripsi hasil otopsi tidak ada tanda-tanda Napoleon keracunan arsenik sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit sifilisnya.

Jejak arsenik telah diklaim ada pada rambut Napoleon. Meski begitu, saat abad ke-19 arsenik merupakan salah satu bagian utama timbal. Timbal tersebut digunakan untuk merekatkan makanan kaleng yang bahkan bisa saja terserap ke dalam makanan.

Ia diketahui juga memiliki kanker dengan tingkat keparahan yang tinggi. Makanan yang dikonsumsinya juga memengaruhi itu. Diketahui Napoleon sering konsumsi makanan yang diawetkan dengan banyak garam. Hal itu yang menjadi penyebab risiko tinggi kematiannya.

Napoleon meninggal dan dikuburkan di Saint Helena tepatnya di lembah Willows. Dalam wasiatnya ia meminta untuk dikuburkan di tepi Sungai Seine, namun gubernur Inggris tidak mengizinkannya. Hingga akhirnya selama puluhan tahun kemudian, pahlawan Prancis ini dapat dimakamkan di Tanah Airnya.

Reporter : Irania Zulia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini