Kisah Cinta Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kisah perjalanan cinta Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto cukup menarik untuk dikupas, meski akhirnya keduanya bercerai.

Sebelum menikahi Titiek, Prabowo pernah berhubungan dengan seorang gadis asal Yogyakarta. Hal itu terungkap dalam biografi ayah Prabowo bertajuk Jelajah Perlawanan Begawan Pejuang (2000: 416-417). Sayangnya hubungan istimewa dengan gadis itu kandas, Prabowo dianggap terlalu fokus terhadap karier militernya.

Setelah jalinan kasihnya putus, Prabowo berangkat ke Jerman Barat untuk berlatih di GSG9 ( Satuan Elit Polisi Anti Teror). Usai mengikuti pelatihan, Prabowo punya pacar baru. Pranbowo memperkenalkan gadis tersebut ke orang tuanya. Sang ayah, Sumitro Djojohadikusumo kaget ketika gadis yang diperkenalkan putranya adalah Titiek Soeharto. Titiek adalah mahasiswi Sumitro di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus putri Presiden Soeharto.

Prabowo dan Titiek berpacaran selama hampir dua tahun. Dengan niatan yang begitu serius, Prabowo mengenalkan Titiek ke keluarga besar. Mengetahui hal tersebut, Ibu Tien, selaku ibunda Titiek, pun mendekati Sumitro dan menanyakan kabar mengenai kedeketan keduanya. Prabowo didampingi ayahnya dan juga keluarga besarnya untuk datang dengan niat baik melamar Titiek Soeharto. Lamarannya diterima oleh Titiek Soeharto dan keluarga besarnya.

Meskipun Titiek masih berstatus sebagai mahasiswa, dua keluarga bisa menerima. Akhirnya persiapan pernikahan disiapkan dalam waktu 60 hari. Pesta pernikahan digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu 8 Mei 1983. Tamu undangan yang hadir di antaranya Wira Hadikusuma (Wakil Presiden), Jendral Yusuf (Ketua Badan Pemeriksa Badan Keuangan). Meraka menjadi saksi ikatan suci Prabowo dan Titiek.

Setelah menikah, Prabowo dan Titiek dikaruniai seorang anak tampan dan gagah, Regowo Hediprasetyo yang lahir pada 22 Maret 1884. Di sisi lain, ada sebuah kisah kehidupan Prabowo yang sangat jarang diceritakan, yakni kisah antara Prabowo dan Titiek Soeharto menghadapi masa sulit.

Saat itu terjadi Peristiwa kerusuhan Mei 1998. Letjen (Purn) Prabowo Subianto tiba-tiba disalahkan atas kasus yang tidak pernah ia lakukan. Prabowo dituduh telah melakakukan serangkaian pelanggaran Hak Asasi Manusia. Pada kondisi dilema, keluarga cendana menuduh Prabowo adalah pengkhianat keluarga cendana. Prabowo diminta angkat kaki dan menceraikan Titiek.

Sebagai wanita, Titiek tak bisa berbuat banyak, hanya air mata yang mengalir. Titiek tidak henti-hentinya menangis karena suami yang ia cinta harus menanggung beban dan dizolimi. Prabowo yang selalu memperjuangkan keamanan dengan baik malah difitnah, dengan alasan Prabowo sangat pro ke rakyat dan dekat dengan tokoh tokoh seperti Amin Rais.

Tak hanya sampai di situ, karier Prabowo ditamatkan pada 25 Mei 1998. Prabowo yang selama ini sudah mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia, tiba-tiba harus mengalami ujian yang sangat pahit.

Dicopot dari seragam militer yang selama ini menjadi kebanggaannya, dipisahkan dari anak dan istrinya yang selama ini sangat disayanginya, dan dipojokkan oleh bangsanya yang selama ini sudah dibelanya.

Setelah dicopot jabatannya, Prabowo memilih ke luar negeri untuk memulai bisnisdan pada tahun 2014 Prabowo pulang ke tanah air dengan tekad dan dukungan teman-teman mencalonkan diri menjadi calon presiden 2014.

Hingga saat ini komunikasi Prabowo dan Titiek masih terus berjalan, bahkan mereka masih sangat romantis di suatu momen ketika bertemu dan berbincang-bincang mengenai masalah bisnis dan politik.

Reporter: Farhan Fadhilah 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini