Idik Sulaeman, Tokoh Kuningan Pencetus Logo OSIS dan Paskibraka

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) mungkin sudah terbiasa dengan kehadiran logo OSIS alias Organisasi Siswa Intra Sekolah. Sebuah atribut yang selalu menempel di seragam putih mereka.

Namun generasi milenial saat ini mungkin belum banyak yang tahu, siapa tokoh pencetus dan pencipta logo tersebut. Dia adalah H. Idik Sulaeman Nataatmaja, AT, tokoh asli Kuningan yang juga merancang perlengkapan yang wajib dipakai oleh para Paskibraka, mulai dari seragam, lambang korps, lambang anggota, lencana tanda pengukuhan, dan kendit kecakapan.

Pria kelahiran 20 Juli 1933 ini merupakan orang pertama orang yang menciptakan rancangan seragam sekolah yang dipakai hingga sekarang di seluruh wilayah Indonesia. Desain seragam sekolah itu ia rancang saat menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) pada 1979-1983.

Keahlian Idik dalam merancang logo maupun atribut sekolah tersebut merupakan bakat yang dimilikinya sejak kecil. Apalagi setamat SMA, Idik memilih seni rupa hingga menjadi sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 9 April 1960.

Usai lulus kuliah, ia memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964), pada 1 Februari 1965 dirinya diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.

Idik Sulaeman
Idik Sulaeman

Idik pun pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.

Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Awalnya pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.

Namun tahun 1973 Idik memberi nama PASKIBRAKA, sebuah akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.

Kemudian pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). 9 Maret 1977, Idik mencapai posisi puncak di Ditbinmud, setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR).

Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat) dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar. Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.

Atas jasanya, Idik memperoleh penghargaan Wibawa Seroja Nusantara, Bintang Jasa Pratama Karya Satya XXX setelah wafat pada tanggal 4 April 2013.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sidak Ramadan sebagai Instrumen Stabilitas Pasar

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per...
- Advertisement -

Baca berita yang ini