Soal RUU Cipta Kerja, Pemerintah dan DPR Perlu Buka Ruang Aspirasi dari Publik

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja atau Omnibus Law kini masih dalam proses penggodokan di DPR.

Kepala Pusat Perancangan UU Inosentius Samsul mengatakan, secara umum RUU tersebut memang perlu disahkan untuk membantu memperbaiki kondisi ekonomi tanah air yang tengah turun.

Meski begitu, Sensi menganjurkan agar pemerintah dan DPR perlu memperhatikan dan menampung beragam aspirasi dari publik.

“Sehingga RUU yang akan disetujui bersama untuk menjadi UU ini, tentunya mengalami perubahan dan penyempurnaan dari draft awal yang disampaikan oleh Pemerintah,” ujarnya kepada Mata Indonesia, Jumat 7 Agustus 2020.

Sensi juga menyarankan agar pemerintah perlu membuka seluas-luasnya partisipasi stakeholter dalam penyusunan RUU Cipta Kerja ini. “Teruta terkait dalam merumuskan ketentuan teknisnya dalam Peraturan Pemerintah,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengemukakan dalam satu minggu ke depan pemerintah bersama parlemen akan kembali duduk bersama untuk membahas RUU Omnibus Law.

Hal ini pun dibenarkan oleh Sensi, meski ia tak mengungkapkan soal kapan selesai pembahasan RUU tersebut.

“Soal kapan waktunya selesai pembahasannya, dapat disampaikan bahwa panja atau Baleg belum menyusun agenda rapat pada masa sidang I yang akan dimulai pada tanggal 14 Agustus yang akan datang,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini