Selamat Ulang Tahun Mbak Mega dan Mbak Tutut!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA– Tepat 23 Januari, dua perempuan Indonesia terkenal di Indonesia merayakan ulang tahunnya.

Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri berulang tahun yang ke-74 tahun. Wanita kelahiran Yogyakarta pada tahun 1947. Memiliki nama asli Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau kerap disapa dengan Mbak Mega. Megawati merupakan presiden wanita Indonesia pertama dan putri dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi seorang Presiden Indonesia.

Megawati mewarisi bakat berpolitik dari ayahnya. Sejak menjadi mahasiswa, ia berkecimpung ke dunia politik melalui Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Mantan presiden kelima Indonesia ini, pernah menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, namun kedua kuliahnya tidak sampai lulus.

Megawati Soekarnoputri adalah anak kedua Presiden Soekarno yang telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ia lahir dari pasangan Soekarno dengan Fatmawati, yang merupakan seorang gadis kelahiran Bengkulu, di mana waktu masa penjajahan Belanda Soekarno pernah diasingkan. Wanita ini dilahirkan pada masa Agresi Militer Belanda. Pada saat Soekarno diasingkan ke pulau Bangka, Fatmawati melahirkan seorang bayi yakni Megawati di kampong Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia dibesarkan di Istana Merdeka.

Sejak kecil ia dikenal sebagai gadis yang lincah, gemar bermain petak umpet, bola serta memanjat pohon bersama sang kakak, Guntur. Dari kecil memang ia telah diajarkan bagaimana selalu tampil rapi dan sopan santun dalam kehidupan sehari-harinya. Saat beranjak remaja ia senang menonton pertandingan basket bersama teman-temannya. Bahkan ia pernah bolos sekolah demi mendukung tim basket sekolahnya.

Sebelum ia menjadi ketua umum PDI-P ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia, lalu akhirnya ia memisahkan diri di tahun 1999. Setelah itu, Megawati menggantikan Gus Dur sebagai presiden dan ia meraih keberhasilan, karena semakin menguatnya demokrasi di Indonesia. Di masa pemerintahannya lah pertama kali diadakan Pemilihan Umum Presiden secara langsung pada 2004. Selepas menjabat sebagai presiden ia masih aktif sebagai ketua umum PDI-P. Partai yang dipimpinnya berhasil memenangkan presiden dan wakil presiden dalam 2 periode.

Selain itu, putri dari Presiden Indonesia ke-2 yakni Soeharto, tanggal ulang tahunnya sama dengan Megawati Soekarnoputri. Wanita ini lahir di Jakarta pada 23 Januari 1949. Siti Hardijanti Rukmana atau dapat disapa dengan akrab yakni Mbak Tutut. Ia merupakan Menteri Sosial RI pada Kabinet Pembangunan VII pada tahun 1998.

Mbak Tutut merupakan anak pertama yang lahir dari pasangan Soeharto dengan Siti Hartinah atau Ibu Tien. Pada tahun 1980 ia membentuk organisasi kirab remaja yang bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia kepada anak-anak muda. Lalu, ia mendirikan sebuah stasiun televisi, yakni TPI. Ia juga menjadi calon presiden dan juru kampanye Partai Karya Peduli Bangsa yang turut serta dalam Pemilu 2004. Partai ini didukung oleh mantan pejabat-pejabat Orde Baru yang dikenal sangat dekat dengan Soeharto, seperti Jenderal (Purn.) R. Hartono. Lalu, Tutut pernah menjadi kader di Partai Golkar dan salah satu juru kampanye di tahun 2014. Setelah ia keluar dari Partai Golkar, Tutut bergabung dengan Partai Berkarya yang didirikan oleh adiknya, Tommy Soeharto. Di samping sebagai politisi, Mbak Tutut juga dikenal sebagai pengusaha dan menjadi ketua maupun pelindung berbagai organisasi.

Walaupun usianya telah 72 tahun, tetapi ia masih terlihat muda dan segar bugar. Selama hidupnya, Tutut mengaku selalu bersyukur dengan apa yang telah didapatkan dan sebisa mungkin ia selalu memancarkan aura positif serta kebahagian. Ia menikah dengan Indra Rukmana dan dikaruniai empat orang anak, yaitu Dandy Nugroho Hendro Maryanto (Dandy), Danty Indriastuti Purnamasari (Danty), Danny Bimo Hendro Utomo (Danny), dan Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana (Sekar).

Reporter: Azizah Putri Octavina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini