Potret Semu Guru di Kulon Progo, Harapan dan Kemajuan Generasi Muda di Momen Hari Pahlawan

Baca Juga

Mata Indonesia, Kulon Progo – Memperingati Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November 2025 menjadi momentum yang mengingatkan setiap orang terhadap jasa pahlawan di Indonesia untuk dikenang.

Pahlawan, tak melulu yang harus memegang bambu runcing, atau bersetelan seragam lengkap dengan puluhan pin hingga pangkat yang menempel.

Di Indonesia sendiri, terdapat pahlawan yang hingga 2025 ini menjadi sosok penting untuk membangun generasi bangsa.

Guru, adalah pahlawan yang tak lekang oleh zaman, bahkan predikatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa menjadi sebutan yang terus tersemat di dunia pendidikan Nusantara.

Pahlawan yang Dikritik

Meski begitu akhir-akhir ini sosoknya menjadi sorotan. Tak sedikit yang mencecar terhadap kasus kekerasan, hingga dugaan kesalahan yang berujung viral.

Sebut saja dugaan pemukulan guru di Jawa Barat kepada siswa hingga gubernur Jabar, Dedi Mulyadi turun tangan.

Narasi yang tersebar di media sosial justru menyudutkan tenaga pendidik ini. Namun begitu dari penelusuran yang dilakukan, siswa yang diduga mendapat kekerasan mengakui bahwa dirinya bolos dan akibatnya mendapat tamparan dari guru hingga ia melaporkan ke orang tuanya.

Tidak hanya itu, di Prabumulih Sumatera Selatan, seorang Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Prabumulih dicopot dari jabatannya.

Narasi yang berkembang pun mengarahkan bahwa pencopotan tersebut diduga karena Kepsek menegur seorang siswa yang datang menggunakan mobil.

Hal itu viral mengingat siswa tersebut merupakan anak dari pejabat wilayah setempat yakni Wali Kota Prabumulih, H. Arlan.

Meski demikian, klarifikasi dari kasus yang dialami Kepsek bernama Roni Ardiansyah dicopot bukan berkaitan dengan siswanya, melainkan kebijakan yang ia buat terhadap seorang tenaga pengajar lain.

Dua kasus tersebut tentu membuat marwah guru turun. Di samping guru terkena imbas.

Murid yang dianggap lemah dan tidak kuat dalam menanggapi kesalahan yang mereka buat memotret generasi muda Indonesia yang tak tangguh seperti sebelumnya.

Label sebagai pahlawan yang tidak membawa jasa apapun semakin bias di mata masyarakat.

Anak Muda dan Pembentukan Karakter

Menanggapi hal itu, seorang guru, Agisanika menganggap bahwa kasus yang terjadi merupakan dinamika di dunia pendidikan.

Menurutnya tak hanya guru yang merupakan seorang pahlawan.

Bahkan untuk membentuk mental anak bangsa bisa dilakukan dari hal-hal kecil.

“Saya kira setiap orang itu pahlawan. Nah dari hal kecil kita buat, anak-anak itu bisa paham mungkin dan memberi dampak yang besar,” kata dia dihubungi Senin 10 November 2025.

Pahlawan saat ini tidak harus menghajar penjajah mundur. Membentuk karakter manusia muda Indonesia pun merupakan perjuangan yang penting.

“Menurut saya yang paling penting adalah menumbuhkan karakter anak ya,” terang dia.

Hal senada disampaikan Raditya Akbar, menurut dia karakter anak sekarang selain dibentuk di lingkungan keluarga, sekolah juga bisa jadi penentu.

“Jadi dibilang guru adalah pahlawan ya kita berusaha mengalahkan kesalahan pikir anak dan membentuk karakter tangguh terhadap mereka. Saya kira itu,” sebut Raditya yang merupakan guru di Yogyakarta.

Hal itu tak mudah, banyak formula bahkan berbagai cara yang masuk akal di pikiran anak-anak bahwa mereka merupakan generasi penerus yang memiliki peluang untuk mengubah Indonesia lebih baik.

Bagi Radit, membentuk karakter tentu dimulai dari kondisi tenaga pengajar di sekolah-sekolah dalam memotret isu pendidikan.

“Guru tentu punya peran dibalik berhasilnya seorang murid selepas ia lulus dan kembali ke masyarakat. Digugu dan ditiru itu harus dimulai dari kami untuk menunjukkan bagaimana manusia itu hidup, ya walaupun tidak semua anak paham, tapi fungsi komunikasi kita dengan anak di situ adalah prosesnya,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Wahyudi menyebut momentum Hari Pahlawan ini adalah upaya pemerintah pusat menyiapkan regulasi untuk keselamatan guru.

“Perlu ada regulasi lain untuk melindungi guru. Tapi saya yakin tujuan dari guru memperlakukan anak seperti itu (tindakan menampar atau menegur siswa) adalah untuk pendidikan, tidak ada niat kekerasan,” kata Wahyudi.

Reaksi dari guru bisa jadi dari aksi yang dilakukan murid yang berlebihan. Wahyudi mengaku memang ada oknum guru yang memanfaatkan kekerasan ini untuk hal pribadi, namun ia yakin tidak banyak guru yang berniat ke hal negatif terhadap muridnya.

“Jadi perlu regulasi yang dibuat ketika guru melakukan tindakan yang mengarah ke pelanggaran, tapi saya yakin mayoritas guru hanya ingin menjadikan murid lebih baik,” ujar dia.

Di Kulon Progo sendiri, pelatihan guru BK sudah dilakukan. Mendidik siswa bisa dengan berbagai metode. Kedisiplinan adalah hal utama.

Batas ruang aman yang harus dijaga oleh tenaga pengajar pun sudah diberikan agar menjaga anak dan guru sendiri lebih baik dalam mendisiplinkan.

“Termasuk juga berkoordinasi dengan orang tua. Teknologi yang sudah secanggih ini kan diskusi antara wali murid dan wali kelas bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk menjelaskan kondisi siswa yang ada di lingkungan sekolah ketika diberikan pelajaran,” katanya.

Menurut Wahyudi, adanya penilaian bulanan seperti rapor atau penilaian tertulis lain adalah cara guru berkomunikasi dengan orang tua terhadap perkembangan anak melalui data.

Sehingga tidak asal menyebut anak baik atau kurang karena tidak ada data penunjang.

Pahlawan Modern saat Ini

Artinya pahlawan tanpa tanda jasa dapat memulai mengarahkan dan mencerdaskan masyarakat dengan cara yang lebih terstruktur.

Maka dari itu, Wahyudi berharap guru di Hari Pahlawan ini bisa terus menguatkan diri di perkembangan zaman yang ada.

Tak lupa sebagai pemerintah yang juga punya peran untuk perkembangan bangsa, terus mendukung guru, meskipun masih banyak kesalahan pendidikan yang perlu dievaluasi.

Sinergi antara pemerintah, guru dan lingkungan masyarakat bagi Wahyudi adalah unsur penting bagaimana membawa semangat pahlawan untuk membangun Indonesia dimulai dari generasi muda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini