Pecinta Reptil Asal Australia Turun Tangan Bebaskan Buaya Berkalung Ban di Sungai Palu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Dua ahli reptil asal Australia, Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson, turun tangan untuk melepaskan ban yang mencekik leher buaya malang itu sejak 2016 lalu.

Dua ahli buaya asal Australia yang juga pengisi acara TV National Geographic adalah dua tokoh utama penyelamatan terkini. Keduanya bersama tim yang mereka bawa mulai bekerja di Palu sejak tiga hari lalu.

Dua bule ini sudah latihan simulasi lepas ban dengan buaya lain, dan kini berusaha menyelamatkan buaya yang sebenarnya.

Pada unggahan video di akun Instagramnya, Matt mengabarkan upaya simulasi penyelamatan lewat kerjasama epic dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng dan Satuan Polisi Air Polda Sulteng.

Matt menggunakan sarang perangkap atau harpun dengan mengorbankan seekor bebek sebagai pancingan (jasamu akan selalu dikenang, wahai bebek!) untuk menjebak target. Buaya yang terperangkap di harpun kemudian diseret ke daratan untuk diikat dan diselamatkan dari jeratan ban.

Salah satu kendala, menurut Matt, dari penyelesaian misi ini adalah memancing buaya untuk masuk perangkap karena kebanyakan buaya di sungai itu tidak kelaparan akibat sumber makanan yang melimpah.

Emang dasar passion, ia mengaku menikmati proses sayembara ini. “Saya senang berbagi pengetahuan dengan teman-teman di Indonesia dan menunjukkan kepada mereka bagaimana menangkap dan melepaskan buaya air laut lewat cara-cara yang benar dan humanis,” tulis Matt di akun instagram pribadinya.

Kamis sore, Matt kembali memberi umpan kepada buaya berkalung ban dengan menggunakan drone. Kali ini umpannya adalah seekor bebek yang diikat dengan tali sekitar 10 meter dan menggunakan drone.

Namun hingga Jumat, buaya tersebut masih belum berhasil ditangkap. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah, Haruna mengatakan kesulitan ini karena warga yang menonton aksi penangkapan buaya berkalung ban itu sangat banyak dan ramai.

Matt dan tim justru mendapatkan buaya lain berukuran 4 meter saat penyisiran Rabu 12 Februari 2020 malam. Buaya yang ditangkap itu hanya untuk mencoba alat penangkap buaya. Buaya tersebut ditangkap di sekitar Jembatan I Sungai Palu dan kembali dilepaskan ke Sungai Palu.

Matt dan rekannya, Chris Wilson, sudah mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menjalankan misinya. Surat izin akan berakhir Sabtu 22 Februari 2020 mendatang dan akan diperpanjang kembali melalui Kepala BKSDA Sulawesi Tengah.

 

View this post on Instagram

Great night last night ?? We got the local wildlife team BKSDA together & headed out to catch the crocodile we‘re after. Once on the water the team leader asked me if we could catch a smaller croc as a training so I could show everyone what to do before the main event. Environmental conditions in the water out here are very tough, coupled with the fact this croc isn’t hungry because of the large food source in the river so we need to make sure we are as prepared as we can be for this challenge and that everyone knows what their role is during the catch. Its been a great journey over here working in partnership with this local community and the Indonesian Goverment. I’m loving being able to share my knowledge with my new Indonesian mates and show them how to catch and release a large saltwater crocodile in a skilled and most importantly, humane way. And I’ve learnt a thing or two as well which I’m looking forward to taking back to Oz. We are now honing in on the big fella to relieve him of the tire around his neck but more than anything I’m thrilled as part of this mission and to leave these key skills and education behind with this great team Stay tuned. #wildlife #conservation #education @bksdasulteng @willow_nt #indonesia #australia @australia #friends #worktogether #globalpartner

A post shared by Matt Wright (@mattwright) on

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini