Okupansi Hotel di DIY Terlambat Meningkat, PHRI masih Optimistis Target Tercapai 90 Persen

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mengakui bahwa tingkat keterisian hotel di wilayahnya selama libur Lebaran tahun ini sedikit di bawah prediksi.

Penundaan liburan hingga prioritas acara keluarga di rumah tampaknya menjadi faktor utama dalam hal ini.

Menurut Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, prediksi keterisian hotel seharusnya naik pada tanggal 9 April, namun kenyataannya peningkatannya baru terjadi pada tanggal 12 April.

“Jadi ini agak terlambat, tapi progresnya naik terus,” ujar dia Selasa 16 April 2o24.

Deddy mengemukakan bahwa beberapa faktor, seperti penundaan liburan dan prioritas acara keluarga, menjadi penyebab keterisian hotel yang lebih rendah dari yang diharapkan.

“Jadi memang wisatawan ini menunda perjalanan mereka hingga tanggal 11, 12, dan 13 April karena alasan kemacetan dan masih adanya acara di tempat tujuan mereka,” kata Deddy.

Terkait dampak dari jalur fungsional Tol Jogja-Solo, PHRI DIY masih belum bisa membuat kesimpulan yang pasti. Namun, hingga Sabtu kemarin, tingkat keterisian hotel di wilayahnya mencapai 80 persen, meskipun diperkirakan akan meningkat menjelang akhir pekan dan berakhirnya masa liburan.

Deddy juga mencatat bahwa masih banyak wisatawan yang tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, tetapi langsung datang ke hotel secara spontan. Meskipun begitu, PHRI DIY tetap optimis bahwa target keterisian hotel sebesar 90 persen masih bisa tercapai di sisa waktu liburan.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi keterisian hotel selama libur Lebaran di DIY terlihat cukup serupa.

“Tentu kami optimis dengan peningkatan keterisian hotel yang signifikan selama liburan kali ini, terutama karena durasi libur yang lebih panjang,” ungkap dia
[09.00, 15/4/2024] Tora Suara. com: abrar,
sory ngirimnya sampe telat bgt ini wkwk.
Kemarin masih jalan2 ke solo dan kejebak macet pas pulang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini