Minim Armada dan Tanpa RPS, Dinsos Kulon Progo Hadapi Tantangan Tangani Ribuan ODGJ

Baca Juga

Mata Indonesia, Kulon Progo – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Kulon Progo merilis data terbaru terkait jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Bumi Binangun.

Berdasarkan hasil monitoring terbaru, terdapat sekitar 1.200 warga Kulon Progo yang terindikasi mengalami gangguan jiwa.

Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos PPPA Kulon Progo, Wahyu Widiyanto Seno Aji, menjelaskan bahwa seluruh penderita ODGJ tersebut telah menjadi perhatian pemerintah daerah.

Salah satu bentuk penanganannya adalah melalui program bantuan psikotik yang bersumber dari APBD Kulon Progo.

“Hasil monitoring terakhir menunjukkan ada 1.200 penderita gangguan jiwa. Mereka telah kami tangani, termasuk melalui penyaluran bantuan psikotik,” ujar Seno.

Bantuan psikotik senilai Rp2 juta per penerima diberikan kepada enam warga ODGJ yang tengah menjalani masa penyembuhan.

Tujuan utama program ini adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan obat-obatan selama proses pemulihan.

Selain bantuan dana, Dinsos PPPA juga rutin melakukan penjangkauan terhadap ODGJ di lapangan.

Kegiatan ini melibatkan tim sosial yang menjemput dan mengevakuasi penderita ODGJ untuk mendapatkan perawatan atau dipulangkan ke keluarga.

Namun, menurut Seno, keterbatasan armada mobil penjangkauan masih menjadi kendala utama.

“Selama ini kami tidak memiliki kendaraan khusus untuk menjangkau ODGJ. Seringkali kami harus menggunakan mobil pribadi untuk menjemput mereka,” ungkapnya.

Tidak hanya terkendala sarana mobilisasi, Kulon Progo juga belum memiliki Rumah Perlindungan Sosial (RPS) yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara bagi ODGJ sebelum mendapatkan penanganan lanjutan di panti rehabilitasi sosial.

“Fasilitas kami sangat terbatas. Saat ini hanya ada shelter sementara berukuran 2×2 meter yang maksimal menampung dua orang selama tujuh hari,” tambah Seno.

Kondisi ini turut mendapat perhatian dari Ketua Komisi IV DPRD Kulon Progo, Edi Priyono, yang menilai bahwa fasilitas untuk penanganan ODGJ di daerah tersebut masih kurang memadai.

Ia mendorong pemerintah daerah agar menambah jumlah shelter sementara dan mempercepat pembangunan RPS agar pelayanan sosial bagi warga dengan gangguan jiwa bisa lebih optimal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini