Jepang Karantina 3.700 Penumpang di Kapal Pesiar, 10 Orang Positif Terinfeksi Virus Corona

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Berbagai negara di dunia tengah melakukan pencegahan terkait penyebaran virus corona asal Cina, salah satunya Jepang.

Saat ini Pemerintah Jepang mengkarantina 3.700 penumpang kapal pesiar di teli]uk Yokohama, karena Kementerian Kesehatan mengkonfirmasi 10 orang yang berada di kapal pesiar Diamond Princess dinyatakan positif terinfeksi virus mematikan ini.

Dilaporkan CNN, kasus ini dikonfirmasi setelah dilakukan pengetesan kesehatan terhadap 31 orang. Lebih dari 100 sampel hingga saat ini masih menunggu hasil pengetesan.

“Kapal pesiar itu sedang dikarantina di perairan dekat pelabuhan Yokohama. Prosedur karantina itu berdasarkan aturan yang ditetapkan,” kata Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga dalam jumpa pers di Tokyo.

Yoshihide mengatakan petugas medis sudah melakukan uji rantai Polymerase (PRC) terhadap seluruh penumpang dan awak kapal tersebut. Kapal itu saat ini masih dilarang mendekat ke daratan sampai keputusan lebih lanjut.

Hingga Rabu 5 Februari 2020 korban meninggal akibat terinfeksi virus corona dilaporkan mencapai 490 orang di seluruh dunia. Penyebaran virus corona sejauh ini mencapai 24.324 kasus.

Pemerintah setempat mengatakan sekitar 12.627 pasien telah mendapat perawatan intensif di Hubei. Sekitar 771 korban diantaranya sejauh ini dinyatakan dalam kondisi kritis.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini