Ini Harapan Jokowi Saat Pilkada di Masa Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-270 daerah bakal menggelar Pilkada serentak 2020 pada 9 Desember 2020 di tengah pandemi covid-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap tingkat partisipasi pemilih tetap baik.

Jokowi meminta agar penyelenggaraan pilkada serentak dilakukan dengan prosedur protokol kesehatan yang ketat agar dapat memberikan rasa aman bagi para pemilih. Ia menambahkan aspek kesehatan dan keselamatan ini harus menjadi prioritas utama.

Jokowi pun menegaskan, baik pemerintah maupun KPU sangat memperhatikan terhadap kesehatan dan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pilkada serentak nanti. Sehingga dapat memberikan rasa aman bagi para pemilih dan juga petugas.

“Yang paling penting kita juga harus bisa meyakinkan pemilih bahwa KPU juga pemerintah sangat concern terhadap kesehatan dan keselamatan dari covid,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas persiapan pelaksanaan pilkada serentak di Istana Merdeka, Rabu 5 Agustus 2020.

Menurut Jokowi, masa pandemi ini bisa menjadi momentum untuk melakukan terobosan baru dan inovasi dalam penyelenggaraan demokrasi. Penyelenggaraan pemilu selama masa pandemi, kata dia, tak akan hanya dilakukan di Indonesia, namun juga di berbagai negara lainnya seperti di Singapura, Jerman, Prancis, dan juga Korea Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini