El Nino Buat Petani Ketar-ketir, Pemkot Jogja Beberkan Kondisi Bahan Pokok Agustus Ini

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Puncak El Nino yang diprediksi akan mengancam warga DIY di bulan Agustus-September 2023 membuat petani was-was. Dampak kekeringan bisa mengancam tanaman termasuk kebutuhan bahan pokok di Kota Pelajar.

Meski begitu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja, Veronica Ambar Ismuwardani menyebutkan bahwa bencana yang disebabkan El Nino berpotensi mengancam beberapa sektor.

Namun untuk kebutuhan bahan pokok di Kota Jogja dipastikan tercukupi. Hal itu menyusul dengan pengelolaan masuk keluarnya distribusi yang dilakukan Pemkot. Bahan pokok yang tersedia juga dianggap cukup hingga El Nino reda.

“Masih terkonidisi semua, baik dari stok bahan pokoknya, termasuk juga harga-harganya,” terang Ambar, Sabtu 5 Agustus 2023.

Ia melanjutkan untuk bahan pokok seperti beras masih di kisaran Rp11-13 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit berada di kisaran harga Rp47 ribu dan cabai merah keriting di harga Rp36 ribu per kilogramnya.

Ambar mengatakan ancaman El Nino yang berdampak pada kekeringan terus dipantau oleh Pemkot. Meski bukan penghasil produk kebutuhan pokok warga Jogja, pihaknya terus berkoordinasi antar wilayah.

“Untuk El Nino nanti kita lihat perkembangannya. Kemungkinan (puncak) di bulan September nanti,” kata dia.

Ambar belum berencana menggelar operasi pasar untuk menekan harga yang dikhawatirkan melonjak setelah El Nino terjadi. Ia hanya mengimbau masyarakat tak perlu khawatir.

“Yang jelas, untuk kebutuhan stok selalu kami sediakan. Apabila kurang, sudah ada koordinasi yang kami lakukan agar bahan-bahan tersebut tetap tercukupi,” kata dia.

BMKG memprediksi bahwa ancaman El Nino sudah bergerak menuju Indonesia. DIY salah satu wilayah yang kerap mengalami dampak ancaman tersebut. Prediksinya puncak El Nino terjadi pada September pertengahan hingga akhir bulan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini